sejarah islam nusantara

Snouck Hurgronje dan Nasib Sebuah Bangsa #2

Sejak zaman VOC, Belanda pun mengakui hukum Islam di Indonesia. Dengan adanya Regerings Reglemen, mulai tahun 1855 Belanda mempertegas pengakuannya terhadap hukum Islam di Indonesia. Pengakuan ini diperkuat lagi oleh Lodewijk Willem Christian yang mengemukakan teori ‘receptio in complexu’. Teori ini pada intinya menyatakan, bahwa untuk orang Islam berlaku hukum Islam. Hingga abad ke-19, teori ini masih berlaku. Snouck Hurgronje mulai mengubah teori ini dengan teori ‘receptie’, yang menyatakan, hukum Islam baru diberlakukan untuk orang Indonesia, bila diterima oleh hukum adat. Pakar hukum adat dan hukum Islam UI, Prof. Hazairin menyebut teori ‘receptie’ Snouck Hurgronje ini sebagai ‘teori Iblis’.

Teori receptie merupakan perwujudan dari pandangan Snouck mengenai Islam secara sosial. Snouck mengarahkan pemerintah kolonial agar memanfaatkan adat kebiasaan yang berlaku dan membantu menggalakkan rakyat agar tetap berpegang pada adat tersebut yang telah dipilih agar sesuai dengan tujuan mendekatkan rakyat kepada budaya Eropa. Dalam teori receptie ini, Snouck berusaha membatasi meluasnya pengaruh ajaran Islam, terutama dalam hukum dan peraturan. Hukum Islam disesuaikan dengan adat istiadat dan kenyataan politik yang menguasai kehidupan pemeluknya. Hukum Islam akan dilegitimasi serta diakui eksistensi dan kekuatan hukumnya jika sudah diadopsi menjadi hukum adat.

Cara Snouck meredam kekuatan Islam tampak sangat halus dan nyaris tidak terasa. Strategi berdasarkan pandangannya terhadap Islam secara sosial tampak dalam “Politik Asosiasi” melalui program jalur pendidikan. Jelasnya, pendidikan di Hindia Belanda harus dijauhkan dari sistem Islam dan ajaran Islam, serta harus ditarik ke dalam orbit kebudayaan Belanda. Tujuan akhir dari program ini bukanlah Indonesia yang diperintah dengan corak adat istiadat, namun Indonesia yang diper-Barat-kan.

Tahun 1938, M. Natsir pernah menulis sebuah artikel berjudul: ”Suara Azan dan Lonceng Gereja”. Artikel ini mengomentari hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam pada 25-26 Oktober 1938, yang juga menyinggung petingnya peran pendidikan Barat dalam menjauhkan kaum Muslim dari agamanya. Natsir mengutip ungkapan Snouck Hurgronje, dalam bukunya Nederland en de Islam, ”Opvoeding en onderwijs zijn in staat, de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren.” (Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang Muslimin dari genggaman Islam).

Kelanjutannya, kaum pribumi yang telah mendapat pendidikan bercorak barat dan telah terasosiasikan dengan kebudayaan Eropa, harus diberi kedudukan sebagai pengelola urusan politik dan administrasi setempa. Mereka secara berangsur-angsur akan dijadikan kepanjangan tangan pemerintah kolonial dalam mengemban dan mengembangkan amanat politik asosiasi.

Secara tidak langsung, asosiasi ini juga bermanfaat bagi penyebaran agama Kristen, sebab penduduk pribumi yang telah berasosiasi akan lebih mudah menerima panggilan misi. Hal itu dikarenakan makna asosiasi sendiri adalah penyatuan antara kebudayaan Eropa dan kebudayaan pribumi Hindia Belanda. Asosiasi yang dipelopori oleh kaum Priyayi dan Abangan ini akan banyak menuntun rakyat untuk mengikuti pola dan kebudayaan asosiasi tersebut.

Pemerintah kolonial harus menjaga agar proses transformasi asosiasi kebudayaan ini seiring dengan evolusi sosial yang berkembang dimasyarakat. Harus dihindarkan, jangan sampai hegemoni pengaruh di masyarakat beralih kepada kelompok yang menentang program peng-asosiasi-an budaya ini.

Secara berangsur-angsur pejabat Eropa dikurangi, digantikan oleh pribumi pangreh praja yang telah menjadi ahli waris hasil budaya asosiasi hasil didikan sistem barat. Akhirnya Indonesia akan diperintah oleh pribumi yang telah ber-asosiasi dengan kebudayaan Eropa.

Pada akhirnya, kaum terpelajar dan elite bangsa ini pun bersikap anti-pati terhadap segala sesuatu yang berbau Islam. Mereka ketakutan jika Islam sampai digunakan sebagi ideologi atau sumber tatatan hukum dan budaya bangsa. Menilik kondisi zaman sekarang yang jauh lebih sekuler, bisa jadi pengaruh sistem pendidikan kolonial masih mendominasi.

Ada satu hal lain yang menggelitik. Anda pasti tahu R.A Kartini. Selama ini kita mengenalnya sebagai tokoh emansipasi wanita. Bahkan mengkultuskannya sebagai seorang pahlawan nasional. Sampai-sampai setiap tanggal 21 April kita semua memperingatinya sebagai Hari Kartini. Kartini adalah sebuah simbol emansipasi wanita di Indonesia.

Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.

Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri Abendanon. Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.” Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP).

Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia. Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922). Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakantindakan mereka.”

Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut: “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.”

Seperti diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar, penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan Kartini oleh Abendanon.

Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Balanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:

”Salam, Bidadariku yang manis dan baik!… Masih ada lagi suatu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: ”Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?”Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” (Lihat, buku Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah: Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235).

Snouck pula yang pertama kali mendorong J.H. Abendanon, yang waktu itu menjabat Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara. Lihatlah bagaimana Snouck begitu jeli mengaplikasikan pemikirannya dalam asosiasi kebudayaan pribumi dengan kebudayaan Eropa. Kartini, yang notabene seorang Muslimah, sampai-sampai mengkonsultasikan pertanyaannya tentang agama kepada Snouck. Sebuah contoh nyata berhasilnya strategi halus milik Snouck. Hingga kini, dan kita tidak bisa menyangkalnya, pemikiran Snouck menjadi sebuah tradisi yang mengakar di negeri ini lewat Hari Kartini.

Adalah tindakan ceroboh apabila kita menafikan pengaruh kuat pemikiran Snouck Hurgronje terhadap Islam di Indonesia. Meski pengamatannya ketika itu dijadikan senjata oleh pemerintah kolonial, kita tetap salut terhadap kecermelangannya menemukan titik-titik lemah umat Islam di Indonesia. Bagi orang Islam Indonesia sendiri, ini merupakan satu pelajaran berharga.

Usaha keras Snouck Hurgronje harus bisa dimanfaatkan untuk memajukan Islam di Indonesia sendiri khususnya dan Islam di dunia umumnya. Kita tidak boleh lagi terjebak pada perdebatan sempit mengenai Islam antar kelompok Islam sendiri. Ataupun sibuk menentang sekularisme dengan gigih, sedangkan perilaku dan cara berpikir kita, tanpa disadari, sebenarnya merujuk pada sekularisme. Ini merupakan keberhasilan lain Snouck Hurgronje. Devide et Impera-nya lagi-lagi terbukti ampuh setelah ia meninggal lebih setengah abad yang lalu. Pemikirannya yang sembarangan memisah-misahkan aspek-aspek dalam Islam masih menjadi kerangka berpikir kita. Sulit rasanya menemukan contoh praktis di masyarakat yang mencerminkan Islam yang satu, tanpa harus ada pemisahan antara Islam sebagai agama murni, Islam sebagai norma sosial dan Islam sebagai ideologi politik. Maka, masalahnya, apa Anda rela Snouck tersenyum dalam kuburnya dengan bangga ?

Sumber :

Dr. Adian Husaini, Meluruskan Sejarah Indonesia, http://www.insistnet.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Christian_Snouck_Hurgronje
www.mail-archieve.com/media-dakwah@yahoogroups.com
http://serbasejarah.wordpress.com
http://muchroji.multiply.com/journal/item/352/Memaknai_Gelar_Haji
www.stidnatsir.ac.id
http://yahoo.groups.com/group/ihtikam/messages

One thought on “Snouck Hurgronje dan Nasib Sebuah Bangsa #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s