Catatan Kecil

Azan ? Sikap Kita

Misalnya, saat ini kita sedang tidur ayam-ayaman. Tiba-tiba azan dengan kerasnya terdengar. Nah, apa yang bakal kita lakukan ? Terus tidur atau bangkit dari kasur, lalu mengambil wudhu ? Yah, tergantung iman kita, kan. Kalau lagi ada, tentu kita wudhu. Nah, masalahnya, kalau iman kita sedang hilang sesaat, bagaimana ? Paling kita meneruskan tidur. Ya, kan.

Saya termasuk sering kehilangan iman lho, hehehe. Jadi fungsi azan maghrib bukan panggilan untuk sholat, tapi panggilan ke kamar mandi, hehehe. Jangan tiru adegan ini oke. Demi kebaikan anda.

Saya akhirnya penasaran dengan azan. Bagaimana sih azan bisa ada. Sejarahnya cukup menarik. Azan tampaknya turun dari langit atau dengan kata lain melalui wahyu. Ada sebuah riwayat menarik tentang masalah azan ini.

Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid r.a meriwayatkan sbb :

 

Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk sholat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja.

Orang tersebut malah bertanya, “Untuk apa ?” Aku menjawabnya bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan sholat. Orang itu berkata lagi, “Maukah kau kuajari cara yang lebih baik ?” Dan aku menjawab, “Ya”.

Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang,“Allahu Akbar,Allahu Akbar.. (lafadz azan yang kita kenal)”

Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perihal mimpi itu kepada beliau. Dan beliau berkata,”Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang.” Lalu aku pun melakukan hal itu bersama Bilal.

Ketika Bilal hendak menyerukan azan, Umar pula datang kepada Nabi s.a.w. dan menceritakan bahawa beliau juga bermimpi seperti yang dialami oleh Abdullah bin Zaid.

 

Sekilas sejarah azan memang agak mengherankan, menurut saya. Soalnya, masak, azan yang faktanya dari mimpi, bisa disyariatkan. Tapi, selanjutnya ada satu tulisan di salah satu blog yang cukup mengena. Ini kutipannya.

“Namun begitu, mimpi-mimpi tersebut bukanlah menjadi dasar pensyariatan azan karena secara kebetulan lafaz-lafaz azan yang diajarkan oleh Nabi S.A.W. mempunyai persamaan dengan mimpi kedua-dua orang sahabat tadi. Sandaran azan bukan saja melalui mimpi bahkan ia diperkuatkan lagi dengan penerimaan wahyu. Al-Bazzar meriwayatkan bahwa:

Nabi s.a.w. pada malam isra’ telah diperlihatkan dengan azan dan diperdengarkan kepadanya di atas langit yang ketujuh. Kemudian Jibril mendatanginya, lalu dia menjadi imam kepada ahli langit. Antara mereka ialah Nabi Adam a.s. dan Nabi Nuh a.s., Allah s.w.t. menyempurnakan kemuliaan baginya ke atas penduduk langit dan bumi”.

 

Begitulah. Jadi azan memang merupakan wahyu. Bukan mimpi lagi. Soalnya, berdasar pada kutipan tersebut, azan diperkuat dengan penerimaan wahyu. Yah, bagaimana pun juga, azan yang berarti seruan ini harus dijawab dan ditanggapi.

Hukumnya pun semestinya wajib.

Semestinya. Karena antara teks wajib dan perlakuan kita terhadap azan tidak sama. Buktinya seperti di atas tadi. Masak, menjawab seruan azan – artinya bersegera sholat ya, bukan menjawab ulang lafadznya – harus tergantung naik turunnya iman. Toh, kalau kita sudah masuk Islam bukankah kita sudah harus beriman dan konsekuen dengan perintah dan larangan.  Jadi, harusnya, saya – dan anda yang sadar – musti refleksi lagi. Azan itu panggilan untuk sholat. Bukan panggilan untuk mandi. Apalagi ke kasur.

7 thoughts on “Azan ? Sikap Kita

  1. fenomenanya, terkadang azan tidak nyaman di dengar… meskipun sepertinya azan memang tidak perlu merdu seperti bernyanyi, mengingat fungsinya untuk memberitahukan waktu shalat, buka puasa, diperdengarkan kepada bayi yang lahir atau seseorang yang meninggal dan sebagainya… tapi seringkali dijumpai azan asal-asalan… ala rock.. ala meneriaki maling dan sebagainya… tentu saja juga tidak perlu mengadakan pelatihan, diklat, workshop, kursus azan atau sebagainya… tapi bagaimana ya… kuping terasa risi… apalagi berkaitan dengan agama..

    1. setuju
      tapi masak kan gara2 azany sumbang aja, kita tiba2 jadi tuli
      mash mndg sih ad yg azan meski sumbg bgt
      toh, kita jadi tahu kadar keimanan kita saat itu
      trima kash komenny🙂 salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s