sejarah islam nusantara

Orang Betawi, Teori Castles, dan Langgar

pasar senen dulu

Banyak sejarawan lokal yang masih saja mengekor pada perspektif kolonialis dalam menelusuri asal-usul orang Betawi. Mereka ini termakan oleh studi dari Lance Castles yang menulis “The Ethnic Profile of Jakarta” yang dimuat di satu majalah Indonesia terbitan Cornell University bulan April 1967. Menurut

Castles, orang Betawi berasal dari budak-budak yang berasal dari berbagai daerah yang didatangkan Belanda pada pertengahan abad ke-19.

Pandangan Castles ini berangkat dari sebuah catatan harian orang Belanda (daghregister) yang hidup di dalam kota benteng Batavia tahun 1673, juga dari catatan Raffles ‘History of Java’ (1815), catatan kependudukan dari Encyclopaedia van Nederlansche Indie (1893), dan sensus penduduk yang dilakukan kolonialis Hindia Belanda (1930). Dalam pandangan Castles, daerah Kali Besar merupakan pusat dari asal-usul orang Betawi. Padahal daerah ini merupakan pusat pemerintahan Hindia Belanda.

Ngawurnya Castles

Sebagai seorang peneliti, Castles jelas bersikap ceroboh dengan mengabaikan keberadaan penduduk asli yang sudah hidup beranak-pinak berabad-abad sebelum kedatangan Belanda, bahkan jauh sebelum kedatangan Portugis. Situs kapak batu di daerah Condet yang ditemukan oleh tim arkeolog Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta ditahun 1970-an dengan tegas telah membantah Teori Castles. Situs kapak batu, beliung batu, pahat batu, dan sebagainya yang ditemukan berasal dari masa 1.000-1.500 tahun SM. Benda-benda itu digali dari tepian sungai Ciliwung, di daerah Condet dan Kalibata Pejaten, Jakarta Selatan.1 Situs ini membuktikan jika nenek moyang orang Betawi, sudah hidup di wilayah tersebut berabad-abad sebelum negara Portugis dan Belanda lahir, bahkan sebelum kelahiran Nabi Isa a.s.!

Sejarawan Sugiman MD memperkuat pandangan itu dengan menyatakan, “Pada masa itu, di Condet dan beberapa tempat di Jakarta sudah ditempati nenek moyang bangsa Indonesia.”2 Hal ini menandakan jika di zaman batu (Neolitikum), wilayah Condet dan sekitarnya telah mengenal peradaban. Bahkan pada 1971, di Pejaten-Pasar Minggu, ditemukan lampu perunggu dan lampu kuil yang menandakan di daerah tersebut telah ada kepercayaan atau agama.

Sejarawan Betawi, Drs. H. Ridwan Saidi yang pernah berdebat keras dengan Castles menegaskan jika Teori Castles tidak memiliki pijakan yang kuat secara ilmiah. Berdasakan penelitian lapangan yang dilakukannya, ditambah dengan penelitian arsip dan berbagai literatur, Ridwan Saidi menyatakan, “Di utara Condet, terdapat pelabuhan Kalapa yang menjadi bagian dari Krajan Salakanagara yang sudah berdiri pada tahun 100 M. Dalam kitab Wangsakerta, disebutkan jika wilayah ini telah ramai disinggahi para pedagang dari Maghribi, India, dan juga bangsa Tiongkok. Dengan sendirinya, warga sekitar telah menyerap banyak pengaruh dan adat istiadat asing. Bahkan kosakata Arab seperti “Adat, Kramat, Alim, dan Kubur”, telah ada di wilayah cikal bakal Betawi jauh sebelum Islam menyebar di wilayah ini pada abad ke-15 M.”3

Selain Ridwan Saidi, sejarawan Uka Tjandarasasmita juga menegaskan jika paling tidak sejak zaman neolitikum atau batu baru (3500 – 3000 tahun SM) daerah Jakarta dan sekitarnya dimana terdapat aliran-aliran sungai besar seperti Ciliwung, Cisadane, Kali Bekasi, Citarum, pada tempat-tempat tertentu sudah didiami orang. Beberapa tempat yang diyakini berpenghuni manusia itu antara lain Cengkareng, Sunter, Cilincing, Kebon Sirih, Tanah Abang, Rawa Belong, Sukabumi, Kebon Nanas, Jatinegara, Cawang, Cililitan, Kramat Jati, Condet, Pasar Minggu, Pondok Gede, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Kelapa Dua, Cipete, Pasar Jumat, Karang Tengah, Ciputat, Pondok Cabe, Cipayung, dan Serpong. Jadi menyebar hampir di seluruh wilayah Jakarta.

Dari alat-alat yang ditemukan di situs-situs itu, seperti kapak, beliung, pahat, pacul yang sudah diumpam halus dan memakai gagang dari kayu, disimpulkan bahwa masyarakat manusia itu sudah mengenal pertanian (mungkin semacam perladangan) dan peternakan. Bahkan juga mungkin telah mengenal struktur organisasi kemasyarakatan yang teratur.4

Islam di Betawi

Nenek moyang orang Betawi bukanlah beragama Hindu atau Budha seperti yang disangkakan banyak kalangan saat ini, melainkan suatu bentuk keyakinan terhadap arwah leluhur. “Jejak Budha pada orang Betawi jelas nihil. Jejak Hindu paling-paling dari Tarumanegara atau Pajajaran. Tapi orang banyak lupa jika Hindu adalah agama kerajaan, yang hanya dianut para elit kerajaan, tidak orang-orang kecilnya. Agama asli orangorang Betawi adalah agama lokal, yakni pemujaan terhadap arwah leluhur. Sisa-sisa

keyakinan itu kini masih ada di Kranggan, Pondok Gede, Bekasi,” ujar Ridwan.

Ketika Islam mulai menyinari utara Sumatera di abad ke-7, bukan tidak mungkin orang Islam sudah ada pula di wilayah pelabuhan Kalapa, cikal bakal Jakarta. Hal ini mengingat para pedagang Arab sudah berkeliling Nusantara hingga ke Maluku dan Timor. Namun sejauh ini catatan pertama memang baru dari Babad Tanah Jawa atau pun Carios Parahyangan yang sama-sama mengisahkan kedatangan Syekh Quro atau juga dikenal sebagai Syekh Hasanuddin dari Cempa5 ke Jawa yang diperkirakan terjadi di

penghujung abad ke-15.

“…. penyebar awal Islam di masyarakat Betawi adalah orang-orang Melayu, maka tidak sulit bagi pendakwah itu untuk menyampaikan pesannya. Mereka masuk dalam rongga-rongga budaya lokal. Istilah lokal seperti sembahyang dan puasa tetap dipergunakan, begitu juga dengan istilah sorga dan niraka, atau neraka, sebagai istilah yang telah dikenal oleh komunitas lokal. Tidak dipaksa untuk menggunakan istilah shalat, shaum, jannah, naar,” tulis Ridwan.

Orang-orang Islam awal di Betawi dianggap oleh Penguasa Pajajaran sebagai orang-orang yang melanggar ajaran Sanghyang Siksha Kandang Karesian. Sebab itu, dalam lidah orang Pajajaran, orang Islam awal di Betawi disebut sebagai kaum Langgara dan tempat beribadahnya disebut Langgar.

Penyebar Islam awal di Betawi berasal dari Pattani yang berhubungan dekat dengan Kerajaan Islam Moghul yang bermazhab Hanafi. Tarekat Syekh Abdul Qadir al-Jilani berasal dari mazhab ini. Sebab itu, nama Syekh Abdul Kadir Jaelani masyhur di komunitas Muslim Betawi. Namun lama-kelamaan mazhab ini memudar dengan kian bersinarnya mazhab Syafii yang memang lebih lengkap compedium hukum Islamnya. Walau demikian, kedekatan orang betawi dengan Syekh Abdul Kadir Jaelani tetap terpelihara sampai kini dengan masih banyaknya gambar Syekh Jaelani dipasang di dinding-dinding rumah asli

orang Betawi.

Para ulama seperti Syekh Quro (Karawang), Datuk Ibrahim (Condet), Datu Biru (Jatinegara), Dato Tonggara (Cililitan), Mak Datu Tanjung Kait (Tangerang), Kumpi Datu (Depok) dan lainnya merupakan para dai yang mengislamkan Jakarta dan sekitarnya. Mengenai Fatahillah, agak mengherankan jika orang percaya dia sebagai orang yang mengislamkan Jakarta karena jejak dakwah Fatahillah yang berasal dari Cirebon (menyerbu Jakarta tahun 1527) tidak ada sisa-sisanya sama sekali dalam kultur warga Betawi saat ini. Bahkan di hari penyerbuannya itu, syahbandar terakhir Pelabuhan Kalapa dan juga tokoh Islam Betawi, bernama Wak Item terbunuh.

“Fatahillah dengan ribuan pasukannya menyerbu Sunda Kalapa. Dia kemudian membangun istana dikelilingi tembok tanah di tepi barat Kali Besar. Orang-orang Betawi yang sudah memeluk Islam diusir dari istana, dan sekitar tiga ribuan rumahnya dibumihanguskan. Jejak dakwah Fatahillah atau pengaruh Islam Cirebon, tidak ada di Jakarta. Saya belum pernah melihat gambar Walisongo menggantung di dinding rumah orang Betawi, kecuali gambar Buroq dan Syekh Jaelani,” demikian Ridwan Saidi.(rz)

(Footnotes)

1 Ridwan Saidi, dalam Seminar ‘Pengembangan Pelestarian Budaya Betawi’, 6 Oktober 2001, di Taman Ismail Marzuki,

Jakarta.

2 Sugiman MD; Jakarta, Dari Tepian Air ke Kota Proklamasi’.

3 Ridwan Saidi; Tinjauan Kritis Penyebaran Islam di Jakarta, Kepercayan Penduduk Krajan Merin Salakanagara Awal

abad Masehi di Bekasi; Makalah Seminar ‘Meluruskan Sejarah Islam di Indonesia’, IKIP Muhammadiyah; Jakarta,

2008.

4 Uka Tjandarasasmita; Jakarta Raya dan Sekitarnya, Dari Zaman Pra Sejarah Hingga Kerajaan Pajajaran; 1977.

5 Menurut Ridwan, cempa adalah Pattani, Thailand selatan. Karena pada abad tersebut sudah berdiri kerajaan Melayu

islam. Perkiraan orang jika Cempa itu Kamboja sama seklai tidak ada dasarnya.

Sumber: Majalah Muslim Digest Edisi 09 /2010

13 thoughts on “Orang Betawi, Teori Castles, dan Langgar

  1. tinggal ditanya ama yang ninggalin kapak batu,beliung batu dan pahat batu yang di condet punya siapa?….. dari mana asalnya….. 1000-1500 sm…….?

  2. Mungkin benar di condet sudah ada pemukiman sejak 1000 – 1500 SM, tapi itu bukan orang betawi. . Sejak jaman portugis jakarta (sunda kalapa) jadi bandar maka sejak itu jakarta didatangi pendatang dari seluruh pelosok nusantara. Sejak saat ini pula bahasa melayu menjadi lingua franca diantara mereka. Lama kelamaan karena pengaruh bawaan bahasa masing-masing etnik yang datang ke jakarta maka terbentuk bahasa betawi. Jadi bahasa betawi adalah turunan bahasa Melayu. sedangkan bahasa melayu itu bahasa yang digunakan di Riau, Sumatera, dan kalimantan. Jadi betawi terbentuk sejak adanya pendatang asing, terbukti dilihat dari budaya nya ada pengaruh dari portugis seperti tanjidor, pengaruh cina seperti gambang kromong. Bolehlah mengupas sejarah tentang nenek moyang kita tapi jangan sampai mengaku sebagai pemilik tapi sebenarnya bukan, apalagi sampai memalsukan sejarah !

    1. mas begooo hehehe, jawaban apa y maksudnya? Kalo maksudny siapa itu nenek moyang betawi, tulisan ini hanya berusaha membuka kemungkinan bahwa nenek moyang betawi bisa berasal dari mana saja, tapi bukan seperti yg dimaksud oleh teori castles… Tulisan ini, yg saya ambil dari majalah muslim digest, membantah teori tersebut… Mengenai asal org2 betawi, wah, saya juga masih berusaha mencari jawban yg paling pas & dpt dipertangungjawabkan… makash ya mas begooo dah mau mampir🙂

  3. Kalau dilihat dari bahasanya, rasanya orang Betawi berasal dari campuran Jawa, Melayu dan Cina. Orang Jawa menggeser orang Sunda masuk pedalaman, mungkin bersamaan dengan berkembangnya Sriwijaya, kerajaan Jawa di Sumatera. Perdagangan yang dikontrol Sriwijaya itulah yang memfasilitasi migrasi orang Cina dari perairan antara Sumatera dan Kalimanatan masuk ke muara-muara sungai di ‘teluk Jakarta’. Sebagai pelabuhan yang ramai, maka masuklah pengaruh-pengaruh Islam dan kemudian orang Eropah.
    Sedangkan nama Betawi bukan dari Batavia, tetapi sebaliknya. Ketika orang Eropah datang dan bertanya tempat maka dijawab oleh orang keturunan Cina dengan logatnya: ‘Betawi a’. Maka mereka tulis namanya Batavia. Heheheh… Sedang arti kata Betawi, boleh ditelusuri ke Palembang, di sana ada nama Talang Betawi di antara Talang-Talang yang lain. Arti kata Talang kira-kira sama dengan Kebon di sekitar Jakarta.
    (Maaf sekedar membuka kemungkinan, kayaknya mustahil orang Betawi menggunakan nama yang dibuat Belanda, yang umumnya mereka benci, menjadi nama kaumnya)

  4. cool,,, aye jg ga suka deh kl ada yg coment kl nama betawi ntu asalnye dari batavia… bravo mas adi..mdh2an dpt mencari jwban yg pas dan dpt dipertanggung jwbkan..

  5. Sejarah Nama-nama resmi wilayah yang sekarang bernama Jakarta
    Kalapa = Nama resmi jaman Sunda-Pajajaran (wilayah kalibesar sekarang)
    Jayakarta = Nama resmi Jaman Banten-Cirebon (wilayah kali besar sekarang)
    Batavia = Nama resmi jaman Belanda ( berasal dari nama daerah leluhur orang belanda)
    Jakarta = Setelah jepang berhasil merebut batavia dari tangan belanda tahun 1942
    sedangkan kata ‘betawi’ bukan atau tidak pernah menjadi nama resmi dari wilayah yang sekarang bernama Jakarta
    Betawi = Nama sebutan penduduk pribumi untuk kata ‘Batavia’

    asal-usul penduduk ‘betawi’ adalah melayu

  6. Udah diulas diatas bahwa tulisan ini mematahkan teori Castles.. Tapi kok pada nggak mudeng ye..??
    Udah dijelasin juga sebelum negara portugis ame belande lahir.. Kalo 3000 SEBELUM MASEHI ya ente2 pikirin aje sendiri dah..😀

  7. Aye mao iseng-iseng ah nanggapin pernyataan Bang H.Ridwan Saidi, di sini Bang haji menyatakan:
    Sejarawan Betawi, Drs. H. Ridwan Saidi yang pernah berdebat keras dengan Castles menegaskan jika Teori Castles tidak memiliki pijakan yang kuat secara ilmiah. Berdasakan penelitian lapangan yang dilakukannya, ditambah dengan penelitian arsip dan berbagai literatur, Ridwan Saidi menyatakan, “Di utara Condet, terdapat pelabuhan Kalapa yang menjadi bagian dari Krajan Salakanagara yang sudah berdiri pada tahun 100 M. Dalam kitab Wangsakerta, disebutkan jika wilayah ini telah ramai disinggahi para pedagang dari Maghribi, India, dan juga bangsa Tiongkok. Dengan sendirinya, warga sekitar telah menyerap banyak pengaruh dan adat istiadat asing. Bahkan kosakata Arab seperti “Adat, Kramat, Alim, dan Kubur”, telah ada di wilayah cikal bakal Betawi jauh sebelum Islam menyebar di wilayah ini pada abad ke-15 M.”3
    ———————————————————————————————-
    jawaban ane:

    1. Kalo Pijakannye cuma Condet sebagai cikal bakal orang betawi karena di utara condet ada pelabuhan kelapa bagian dari kerajaan Salakanegara yg berdiri 100 M.
    Menurut naskah “Pustaka Rayja-rayja I Bhumi Nusantara”, kerajaan di pulau Jawa adalah Salakanagara (artinya: negara perak). Salakanagara didirikan pada tahun 52 Saka (130/131 Masehi). Lokasi kerajaan tersebut dipercaya berada di Teluk Lada, kota Pandeglang, kota yang terkenal dengan hasil logamnya (Pandeglang dalam bahasa Sunda merupakan singkatan dari kata-kata panday dan geulang yang artinya pembuat gelang). Dr. Edi S. Ekajati, sejarawan Sunda, memperkirakan bahwa letak ibukota kerajaan tersebut adalah yang menjadi kota Merak sekarang (merak dalam bahasa Sunda artinya “membuat perak”). Sebagain lagi memperkirakan bahwa kerajaan tersebut terletak di sekitar Gunung Salak, berdasarkan pengucapan kata “Salaka” dan kata “Salak” yang hampir sama.
    Dalam catatan sejarah, raja-raja Salakanagara yang menggunakan nawa Dewawarman sampai pada Dewawarman IX. Hanya saja setelah Dewawarman VIII, atau pada tahun 362 pusat pemerintahan dari Rajatapura dialihkan ke Tarumanagara. Sedangkan Salakanagara pada akhirnya menjadi kerajaan bawahan Tarumanagara.
    Selain adanya perkiraan jejak peninggalan Salakanagara, seperti batu menhir, dolmen dan batu magnet yang terletak di daerah Banten, berdasarkan penelitian juga ditemukan bahwa penanggalan sunda atau Kala Sunda dinyatakan ada sejak zaman itu. Penanggalan tersebut kemudian dinamakan Caka Sunda. Perhitungan Kala Saka mendasarkan pada Matahari 365 hari dan Bulan 354 hari. Masing-masing tahun mengenal taun pendek dan panjang.
    Selama kejayaan Salakanagara gangguan yang sangat serius datangnya dari para perompak. Hingga pernah kedatangan perompak Cina. Namun berkat keuletan Raja Dewawarman dengan membuka hubungan diplomatik dengan Cina dan India pada akhirnya Salakanagara dapat hidup damai dan sentausa.

    **Kesimpulan:
    Disini jelas bahwa pelabuhan pertama Kerajaan Salakanegara ini ada di wilayah banten, sedangkan pada saat itu perahu adalah kendaraan yg efektif dan aman untuk menempuh perjalanan jarak jauh mengingat pada zaman tersebut jalur darat masih berupa hutan lebat dengan banyak binatang buas dan binatang berbisa, semua di perkuat dgn banyaknya bukti barang-barang sbg alat pertanian yg di temukan di pinggir kali ciliwung di condet ini membuktikan bahwa peran perjalanan jalur sungai sangatlah penting pada saat itu.
    Melalu jalur muara kali Ciliwung inilah pertama kali orang memasuki wilayah Jakarta sampai pedalamannya.
    muara Sungai di utara jakarta pada saat ini hanyalah Sungai Ciliwung, sedangkan Cisadane adanya di wilayah Tanggerang, berdasarkan jumlah penduduk pada masa itu masihlah sedikit maka muara sungai ciliwung itu hanya di gunakan sebagai jalur masuk perahu-perahu ke wilayah pedalaman.

    Di sini jelas condet pada zaman 100M – 400 M masuk dalam wilayah kekuasaan orang2 Jawa Barat, dengan adanya transportasi sungai bisa jadi mereka berasal dari wilayah banten atau pedalaman banten hingga ke bogor yang mana keduanya masih dalam satu Suku yaitu suku Sunda, di sini memperjelas bahwa asal usul orang betawi adalah orang-orang yg bersuku Sunda yang masih beragama animisme dan hindu.
    (hehehehehe…yg ga setuju terserah amalannye masing-masing)

    2. Setelah Salakanegara berkuasalah kerajaan Tarumanegara dengan Purnawarman, Tarumanegara adalah bagian dari Salakanegara, berhubung wilayah Tarumanegara ini lebih cepat berkembang maka Salakanegara menjadi negara bawahan Tarumanegara, (400 -700M), Baik sumber-sumber prasasti maupun sumber-sumber Cirebon memberikan keterangan bahwa Purnawarman berhasil menundukkan musuh-musuhnya. Prasasti Munjul di Pandeglang menunjukkan bahwa wilayah kekuasaannya mencakup pula pantai Selat Sunda. Pustaka Nusantara, parwa II sarga 3 (halaman 159 – 162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbolinggo) di Jawa Tengah. Secara tradisional Cipamali (Kali Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.
    Sumber sejarah yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya Kerajaan Tarumanegara, antara lain beberapa prasasti dan berita Cina dari Dinasti Tang abad ke-7. Prasasti dari Kerajaan Tarumanegara berjumlah tujuh buah; sebagian kini disimpan di Museum Jakarta dan sebagian lagi masih di tempatnya semula. Prasasti tersebut adalah Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Pasir Awi (keempatnya ditemukan di daerah Leuwiliang Bogor), Prasasti Tugu (Cilincing, Jakarta), dan Prasasti Muncul (Banten). Bahasa yang dipergunakan dalam prasasti-prasasti tersebut adalah bahasa Sansekerta dengan huruf Pallawa, yang diduga berasal dari abad ke-4.

    Pada akhir abad ke-7, Kerajaan Tarumanegara diduga kuat sudah lenyap. Daerahnya takluk pada Sriwijaya untuk kemudian pada abad ke-11 berada pada pengaruh Jawa sebagaimana ditunjukkan melalui Prasasti Citatih (Cibadak, 1030 M).

    Pada Zaman ini sejarah yang menyebutkan bahwa Tarumanegara menyerang Kerajaan Tanjung Jaya yg ada Condet, seperti yg pernah di katakan H.Ridwan Saidi di web yang lain.
    Di Zaman itu memang pernah di sebutkan nama kerajaan kecil bernama Tanjung Kelapa bukan Tanjung Jaya di sekitar Condet bagi saya rasanya tidak mungkin penaklukan kerajaan kecil seperti Tanjung Kelapa ini dgn cara kekerasan sedangkan kebesaran kerajaan Tarumanegara pada masa itu sudah Terkenal seantero Jawa barat termasuk Tanjung Kelapa bukan Tanjung Jaya.
    Kerajaan Tarumanegara menganut agama Hindu begitupun para pembesar kerajaan kecil yang menjadi bawahannya.
    pada masa itu mulai terbentuk satu pelabuhan kecil di muara ciliwung di teluk Jakarta, dan belum tercium masuknya Islam ke pedalaman Jakarta yaitu Condet pada abad 400-700 m

    3. Kerajaan Sunda Galuh adalah suatu kerajaan yang merupakan penyatuan dua kerajaan besar di Tanah Sunda yang saling terkait erat, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Kedua kerajaan tersebut merupakan pecahan dari kerajaan Tarumanagara. Berdasarkan peninggalan sejarah seperti prasasti dan naskah kuno, ibu kota Kerajaan Sunda berada di daerah yang sekarang menjadi kota Bogor, sedangkan ibu kota Kerajaan Galuh adalah kota Kawali di Kabupaten Ciamis, kerajaan ini berkuasa dari tahun 700 -1000M, ini yang menjadi cikal bakal terbentuknya kerajaan Pajajaran.
    mereka menganut agama hindu dan sunda wiwitan.
    Pelabuhan laut pada masa itu yang lebih di kenal hanya pelabuhan Banten dan Cirebon saja di pesisir utara jawa barat, sedangkan pelabuhan Kelapa di muara Ciliwung masih belum besar dan bukan sebagai pelabuhan dagang utama.

    Sedangkan Tanjung Kelapa di Condet hanya satu kerajaan kecil yg tidak mengancam yang secara otomatis termasuk dalam wilayah kekuasaan Galuh yang masih beragama hindu dan sunda wiwitan.

    4.Tentang istilah Sunda (Kelapa) itu sendiri baru muncul pada abad ke-10, sebagaimana Prasasti Kebon Kopi II (942 M) dan sebuah catatan (buku) Cina yang mengandung uraian tentang Sunda, Chu-fan-chi, karangan Chau Ju-kua (1178-1225) dan masih di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda yaitu Kerajaan Pakuan Pajajaran.

    *****Mari kita membahas mengenai kerajaan Kelapa dan Tanjung Jaya ini.

    Kerajaan yang didirikan sepupu Ragamulya, Raja Pajajaran yang bernama Wangsatunggal. Hal tersebut bisa diketahui dari naskah Wangsakerta. Lokasi Tanjung Jaya diperkirakan di Kampung Muara, Kelurahan Tanjung Barat, Jakarta Selatan, di pinggir “kali kimpoi”, temuan Kali Ciliwung dengan Kalimati (Kalisari)/Kali Cijantung. Ini berarti Wangsatunggal memindahkan pusat Kerajaan Tanjung Kalapa (taklukan Tarumanagara) dari Condet ke Tanjung (Barat). Wangsatunggal kemudian mengganti nama Tanjung “Kelapa” dengan Tanjung “Jaya”. Tepatnya lokasi Istana Tanjung Jaya di atas sebuah areal tanah seluas 800 meter. Istana menghadap ke utara, terbukti dengan adanya sumur lobang buaya dengan kulem di bagian utara lokasi. Menjadi eiri khas istana-istana di wilayah Jawa sebelah barat adanya sumur tua di depan istana. Bahkan di bagian depan Istana Pajajaran (Lawang Gintung) terdapat 7 buah sumur.

    Kerajaan ini didirikan pada tahun 1333, dengan pendirinya adalah Wangsatunggal (sepupu dari Prabu Ragamulya Luhur Prabawa / raja Sunda ke-30). Pada awalnya kerajaan ini merupakan kerajaan bawahan Kerajaan Sunda, tetapi ketika Sunda-Galuh bersatu dengan nama Pajajaran, maka Kerajaan Tanjung Jaya menjadi wilayah bawahan Pajajaran.

    Raja-raja selanjutnya dari kerajaan ini adalah Ragamulya, Munding Kawati, Mental Buana, Banyak Citra, Cakralarang, dan Kinawati. Kelak Kinawati ini menikah dengan Prabu Surawisesa (raja Pajajaran).

    Kerajaan ini merupakan kerajaan kecil namun sangat ramai, hal ini dikarenakan Kerajaan Tanjung Jaya merupakan kerajaan yang ditugaskan Pajajaran untuk mengatur Pelabuhan Kalapa (salah satu pelabuhan terbesar di Nusantara saat itu).
    ——————————————————————————————-

    H. Ridwan Saidi menerangkan dalam WEB lain bahwa Cirebon telah menfitnah “WAK ITEM” SEBAGAI PENYEMBAH BERHALA”.

    Seperti keterangannya di bawah ini:
    ———————————————————————————————————–
    Kemudian Cirebon fitnah Wak Item sebagai penyembah berhala. Dalam kajian sejarah, Wak Item merupakan proto manusia Betawi (sebelum dipastikan sebagai suku Betawi). Wak Item ditugaskan sebagai Xabandar (syahbandar) Bandar Kalapa atau dikenal Pelabuhan Sunda Kelapa. Ada pula menyebut, Fatahillah menyerbu Kalapa dengan maksud meng-Islam-kan penduduk Labuhan Kalapa. Padahal orang-orang Betawi sendiri telah menjadi Islam oleh Syekh Hasanuddin Patani pada Abad XV, mulai dari pesisir Timur Pulo Kalapa sampai Tanjung Kait di barat.
    mendiskripsikan bahwa Disebut Wak Item,karena berpakaian serba item (hitam) seperti suku Baduy.Wak Item disebut juga Batara Katong, karena memakai mahkota dari emas.
    ———————————————————————————————————–
    Disini di lihat bahwa H.Ridwan Saidi tidak teliti dalam menilai sosok WAK ITEM ini, sebab dari cara berpakaian Wak Item ini, tidaklah menggambarkan bahwa dia seorang pembesar Muslim yaitu seorang Syahbandar yg beragama Islam, di tambah lagi pemakaian Mahkota Emas di kepalanya, ini juga merupakan bukti bahwa “wak item” ini bukan seorang muslim sebab dalam Islam ada Larangan keras bagi setiap laki-laki muslim memakai Perhiasan emas (hukumnya Haram), bagi saya ciri-ciri “Wak Item” ini lebih mirip seperti sosok seorang dukun.
    Jadi besar kemungkinan bahwa itu bukanlah tuduhan orang-orang Cirebon tapi justru kenyataan.
    Melihat ciri-ciri Syahbandar seperti “wak item” besar kemungkinan bahwa Pelabuhan Sunda Kelapa ini di dominasi oleh orang-orang pemeluk agama buhun yaitu agama Sunda Wiwitan bercampur Hindu.
    Dan Wak Item ini adalah orang pilihan dari seorang Raja Pakuan Pajajaran sebagai Syahbandar di Pelabuan Kelapa ini, sudah otomatis di pilih orang terpercaya dan seakidah dengan agama sang Raja.
    sedangkan pernyataannya bahwa orang-orang betawi telah di islamkan oleh Syech Quro atau Syech Hasanudin saya rasa adalah pernyataan yang lemah sebab masa hidup Syech Quro mendarat di Caruban (Cirebon) pada tahun 1409 dan itupun di usir dari wilayah Caruban (Cirebon) dan kembali lagi ke pulau jawa yaitu di muara citarum karawang pada tahun 1416 dan mendapat izin dari penguasa di pelabuhan karawang untuk membangun sebuah musholah pada tahun 1418, setelah itupun di usir lagi oleh Penguasa Sunda dengan mengutus Jayadewata (sribaduga maharaja) atau Parbu Siliwangi sebagai utusan untuk mengusir Syech Quro tsb.
    Walau akhirnya Prabu Siliwangi masuk islam karena perkawinannya dengan Nyi Subang Larang, tapi pihak pusat kerajaan sunda tetap melarang perkembangan islam pada saat itu, begitupun pada masa kerajaan Pakuan Pajajaran di bawah kekuasaan Prabu Siliwangi, Prabu Siliwangi ini berkuasa pada tahun (1482 – 1521), yang bertahta di Pakuan (Bogor sekarang).Nyi Subang Larang tidak dapat hidup di istana pakuan sebab pihak kerajaan lebih kuat memegang agama pendahulunya, dan nyi subang larangpun meminta izin untuk pindah ke wilayah cirebon tepatnya di gunung sembung, agar bisa mendidik agama islam pada anak-anaknya, dan prabu siliwangipun mengizinkannya.

    pada zaman Syech Quro yg di bawah tekanan kerajaan Sunda, beliau tetap berdakwah seorang diri di Mushollahnya di Karawang dan sekitarnya sekalipun ada orang dari Pelabuhan Sunda Kelapa yang memeluk Islam mungkin jumlahnya hanya sedikit tapi dalam pernyataan H.Ridwan Saidi menyatakan bahwa seluruh orang betawi pada saat itu yang tinggal di Labuan Kelapa semua di anggap sudah memeluk islam sebelum tahun (1527) karena jasa Syech Quro, tapi bila kita teliti lagi mengingat wilayah pelabuhan kelapa ini masih wilayah kerajaan Pakuan pajajaran yang beragama Buhun Sunda Wiwitan bercampur Hindu dengan Rajanya Surawisesa yang tidak mau memeluk Islam oleh sebab itu saya lebih yakin bahwa rakyat pelabuan kelapa pada saat itu lebih condong atau lebih banyak ikut pada pemahaman pembesarnya.

    Jadi Tuduhan H.Ridwan Saidi ini pada Fadhillah Khan atau Fatahillah, yang menyerang Pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1527 yang di katakan bertindak semena-mena pada orang islam di pelabuhan sunda kelapa sangatlah tidak mendasar, sebab para pejuang di zaman walisongo dahulu sangat patuh pada ulamanya dan lebih mengutamakan persaudaraan sesama muslim, bahkan saling mengikat tali persaudaraan lewat jalur perkawinan karena seakidah dalam beragama.
    H.Ridwan Saidi mengatakan bahwa Pasukan Fatahillah ini menghancurkan 3000 rumah orang betawi muslim yang telah kosong adalah sesuatu hal yg tidak masuk akal, buat apa menghancurkan Rumah rakyat yang kosong hingga ribuan jumlahnya yang jadi pertanyaan, apakah Sunda Kelapa Sepadat itu..?.
    Laporan Portugis menjelaskan bahwa Sunda Kelapa terbujur sepanjang satu atau dua kilometer di atas potongan-potongan tanah sempit yang dibersihkan di kedua tepi sungai Ciliwung. Tempat ini ada di dekat muaranya yang terletak di teluk yang terlindung oleh beberapa buah pulau. Sungainya memungkinkan untuk dimasuki 10 kapal dagang yang masing-masing memiliki kapasitas sekitar 100 ton. Kapal-kapal tersebut umumnya dimiliki oleh orang-orang Melayu,
    lalu di manakah letak 3000 rumah rakyat tersebut….?

    H.Ridwan juga Pernah mengatakan di WEB yang lain bahwa WAK ITEM dan 20 Pengikutnya mati syahid di bunuh pasukan Fatahillah, ini sangat aneh sekali, sebab yang berhak menyandang Mati Syahid itu hanya untuk muslim yang berperang fiisabilillah di jalan ALLAH, kalau Wak Item seorang Muslim buat apa dia melawan Pasukan kiriman Demak dan Cirebon yang mana pasukan ini adalah Pasukan utusan Wali Songo, yang mana nama 9 Wali pada masa itu sangat di segani oleh Orang-orang yang telah lama ataupun baru memeluk islam di tanah jawa dan nama 9 wali ini sudah tersebar jauh hingga kepelosok, dan bagi siapa saja yg sudah memeluk Islam pasti akan tunduk dan Patuh pada ke 9 wali ini, sedangkan WAK ITEM dengan ciri2 yang telah di bahas sudah menunjukan bahwa dia bukanlah seorang Muslim.
    Kalo H.Ridwan Saidi ini masih memaksa dan menganggap WAK ITEM ini adalah seorang muslim, bagi saya itu urusan dia.

    Perjanjian Antara Portugis dan Kerajaan Pakuan Pajajaran ini sudah di awali di tahun 1518 yaitu ketika masa Prabu Siliwangi.
    Para wali dari Demak dan Cirebon lambat laun mengetahui sepak terjang Portugis di Wilayah yang di singgahinya.
    Bangsa Portugis berlayar ke Asia dan pada tahun 1511, mereka bahkan bisa merebut kota pelabuhan Malaka, di Semenanjung Malaka. Malaka dijadikan basis untuk penjelajahan lebih lanjut di Asia Tenggara dan Asia Timur.
    Selain Berdagang dan Menguasai Wilayah yag di singgahinya Portugis juga sangat gencar menyebarkan Agama Kristen Katolik Roma di semua tempat yang di singgahinya dalam kata lain Kristenisasi di semua wilayah, inilah yang membuat Berang Para Wali dan Raja Trenggono di Demak.
    Sudah Pasti Syarif Hidayatullah memberi peringatan pada Kakeknya tersebut dengan cara baik2 mengenai kerjasamanya dengan Portugis, tapi rasa hormat dan melihat kondisi kakeknya yang sudah tua yang membuat Syarif Hidayatullah tidak terlalu menekan pembatalan perjanjian antara Kerajaan Kakeknya itu dengan Portugis.
    Hal ini di ketahui oleh Pamannya Prabu Surawisesa, akhirnya Syarif hidaytullahpun kembali ke Cirebon dan Demak untuk memperkuat kerajaan Islam pertama di Tanah jawa tersebut yaitu kerajaan Demak.

    Pada tahun 1522 yaitu pada masa Prabu Surawisesa di angkat sebagai Raja baru Kerajaan Pakuan Pajajaran menggantikan Ayahandanya Prabu Siliwangi, Pihak kerajaan Pakuan Pajajaran semakin mempererat ikatan Perjanjian Kerjasama dengan Portugis dalam segi perdagangan serta militer, pada tahun 1522 Gubernur Alfonso d’Albuquerque yang berkedudukan di Malaka mengutus Henrique Leme untuk menghadiri undangan raja Sunda untuk membangun benteng keamanan di Sunda Kalapa untuk melawan orang-orang Cirebon yang bersifat ekspansif. Sementara itu kerajaan Demak sudah menjadi pusat kekuatan politik Islam. Orang-orang Muslim ini pada awalnya adalah pendatang dari Jawa dan merupakan orang-orang Jawa keturunan Arab.
    Maka pada tanggal 21 Agustus 1522 dibuatlah suatu perjanjian yang menyebutkan bahwa orang Portugis akan membuat loji (perkantoran dan perumahan yang dilengkapi benteng) di Sunda Kelapa, sedangkan Sunda Kelapa akan menerima barang-barang yang diperlukan. Raja Sunda akan memberikan kepada orang-orang Portugis 1.000 keranjang lada sebagai tanda persahabatan. Sebuah batu peringatan atau padraõ dibuat untuk memperingati peristiwa itu. Padrao dimaksud disebut sebagai layang salaka domas dalam cerita rakya Sunda Mundinglaya Dikusumah. Padraõ itu ditemukan kembali pada tahun 1918 di sudut Prinsenstraat (Jalan Cengkeh) dan Groenestraat (Jalan Nelayan Timur) di Jakarta.

    Sebelum di serangnya Pelabuhan sunda kelapa oleh Demak dan Cirebon tahun 1427 ini, pada masa tenggang tahun 1422 dan 1427 sudah pasti pihak Cirebon yaitu Syarif Hidayatullah memberikan peringatan kembali Pada Pihak Kerajaan Pakuan Pajajaran untuk memutuskan kerjasamanya dengan Portugis, mengingat hubungan darah antara Pakuan Pajajaran dengan Cirebon sangatlah dekat, yaitu antara Paman dan Keponakan, tapi karena tidak di hiraukan oleh Kerajaan Pakuan Pajajaran, maka Pihak Cirebon harus mengambil keputusan yang berat tapi bagi Demak dan Cirebon Agama adalah di atas segalanya.
    Jadi serangan ini bukanlah serangan yang penuh nafsu untuk menguasai tapi butuh pertimbangan yang berat dari berbagai macam segi, sebab dengan kerjasamanya Kerajaan Pakuan Pajajaran dengan Portugis ini sama saja meberi jalan pada bangsa Portugis untuk menjalankan misinya di pulau jawa.
    Yang pasti tujuan utamanya adalah mencegah Kristenisasi di wilayah pulau jawa ini, Para wali sudah banyak belajar dari kisah-kisah orang terdahulu seperti kisah Perang Salib di Yerusalem, yaitu Sulthan Salahudin Al Ayubi yg berperang dengan pihak tentara salib dari Eropa.

    H.Ridwan Saidi mengatakan bahwa ketika datangnya serangan Fatahillah ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang situasinya dalam Status ancaman dari kerajaan Demak dan Cirebon ini tidak di jaga dengan ketat oleh kedua belah pihak, H.Ridwan Saidi mengatakan pada saat itu tidak ada satupun pihak tentara Portugis ada di pelabuhan Sunda Kelapa itu.
    Padahal dalam perjanjian tanggal 21 Agustus 1522, bahwa pihak pajajaran meminta Portugis membuat benteng pertahanan yg fungsinya untuk menghalau serangan tentara Demak.
    Apakah Portugis sebodoh itu setelah membangun Loji yaitu perkantoran dan Benteng Pertahanan yg di lengkapi dengan persenjataan meriam lalu di tinggalkan begitu saja dan di biarkan kosong, lalu buat apa perjanjian yg di buat antara Pajajaran dan Portugis ini…..?

    H.Ridwan Saidi selalu mempermasalahkan masalah tanggal hari jadi kota Jakarta yaitu tanggal 22 Juni yang di rayakan setiap tahunnya oleh Warga Jakarta, soal penanggalan ini kita serahkan saja pada ahli perhitungan mundur penanggalan, yang pasti dengan jatuhnya Sunda kelapa ke tangan orang Islam itulah hari kelahiran Jakarta, sebab mayoritas Suku betawi sesudahnya rata-rata menjadi Muslim, dan kemenangan Fatahillah bagi masyarakat betawi adalah kemenangan Islam.

    H.Ridwan Saidi selalu mempermasalahkan Bahwa Fatahillah adalah bukan Pahlawan Betawi dan Bukan Putra Daerah Betawi yg harus di banggakan, saya Rasa H.Ridwan Saidi ini menjurus kepada Rasis dan kesukuan.
    Apakah H.Ridwan Saidi ini idak ingat pada Pahlawan Nasional kita yang berkebangsaan dan berdarah Belanda yang bernama Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker (umumnya dikenal dengan nama Douwes Dekker) beliau adalah anak dari pasangan Belanda yang bernama Auguste Henri Edouard Douwes Dekker (Belanda totok), seorang pialang bursa efek dan agen bank, dan Louisa Margaretha Neumann, seorang Indo dari ayah Jerman dan ibu Jawa.
    Masyarakat Betawi di menganggap Fatahillah sebagai Pahlawannya, sebab Fatahillah telah memenangkan Islam di bumi Batavia yang mana Fatahillah juga di anggap sebagai Pahlawan Islam oleh masyarakat betawi.

    ****** UDEH DULU AH CAPE NGURUSIN JAWABAN BUAT H.RIDWAN SAIDI, GW MAO TIDUR…NGANTUK….**********

  8. H.Ridwan Saidi menyatakan:
    “Fatahillah dengan ribuan pasukannya menyerbu Sunda Kalapa. Dia kemudian membangun istana dikelilingi tembok tanah di tepi barat Kali Besar. Orang-orang Betawi yang sudah memeluk Islam diusir dari istana, dan sekitar tiga ribuan rumahnya dibumihanguskan. Jejak dakwah Fatahillah atau pengaruh Islam Cirebon, tidak ada di Jakarta. Saya belum pernah melihat gambar Walisongo menggantung di dinding rumah orang Betawi, kecuali gambar Buroq dan Syekh Jaelani,” demikian Ridwan Saidi.(rz)
    ————————————————————————————————————
    Jawab:
    Fatahillah membangun Istana….???
    Buat apa membangun Istana dalam Situasi Perang…????
    Buktinya sisa-sisa berdirinya Istana tersebut di mana…???
    Dari tulisan Penjelasan H.Ridwan Saidi ini sangat membingungkan masa membangun Istana dulu setelah istana selesai baru mengusir orang Betawi dari dalam Istana, lalu 3000 rumah di bumihanguskan, hehehehehe rumah2nya di dalam istana ya….???
    bagi saya ini Suatu penjelasan yg aneh.

    kalau memperkokoh benteng yg sudah ada sebagai lini pertahanan untuk mencegah serangan balasan dari Pajajaran dan Portugis itu baru masuk di akal.

    H.Ridwan saidi juga berkata “Jejak dakwah Fatahillah atau pengaruh Islam Cirebon, tidak ada di Jakarta”
    menurut ane sih islam bukanlah fatahillah, dan islam bukanlah cirebon, cukup dengan menilai bahwa islam menjadi agama mayoritas bangsa betawi, sudah merupakan bukti dari eksistensi dakwah yang di bawa oleh Fatahillah dan penerusnya.

    H.Ridwan Saidi mengatakan “Saya belum pernah melihat gambar Walisongo menggantung di dinding rumah orang Betawi, kecuali gambar Buroq dan Syekh Jaelani,”

    Pertanyaan ane sih gampang aje, “emangnye H.Ridwan Saidi ini udeh keliling ke seluruh rumah-rumah orang Betawi sejakarta sampe die tau kalo pajangan rumahnye cuman ade gambar Buraq ame Gambar syach Abdul Qadir Jailani…??? atau jangan-jangan die cuman tau rumah keluarganye doang yg di anggap Betawi Asli”
    Kalo Orang Betawi Asli yang ngerti Agama ga bakalan di majang Gambar Buroq di rumahnye, soalnye banyak yang bilang Buroq tunggangan Rasulullah SAW ga mungkin kayak begitu, berbadan Kuda berkepala perempuan cantik dengan rambut gelombang yg terurai” hadeeeeeeuuuuuh.
    Yang ane Tau justru kebalikannye pendapat H.Ridwan Saidi, kebanyakan Betawi asli yang kenal ame agamanye lebih condong majang Gambar Habaib ame Wali Songo, sebagai wujud cintenye ame keturunan keluarga Rasul, kalo kate engkong ane “kite ga ketemu ame Rasulnye di Dunia, tapi kite masih bisa mencintai keturunannye”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s