Catatan Kecil

Mengapa Kopi ?

secangkir kopi yang kompleks

Mengapa kopi ?

Pertanyaan ini terbesit setelah saya membaca dwilogi terbaru Andrea Hirata, Padang Bulan dan Cinta dalam Secangkir Gelas. Andrea dengan menggebu-gebu mendeskripsikan kopi sebagai bagian dari kehidupan orang-orang Melayu di Bangka Belitong. Sampai-sampai, habis membaca novelnya, kesan yang muncul, orang Melayu tak bisa hidup tanpa kopi. Ah, sehebat itukah kopi. Dan akhirnya, pertanyaan tersebut muncul. Mengapa kopi ? Bukan teh ? Atau susu ? Kenapa kopi ?

Dulu, ketika kopi masih berupa biji dan saya belum lahir, kambinglah yang pertama kali merasakan efeknya pada tahun 800 SM. Itu sejarahnya. Sejarah kopi aslinyamerupakan suatu kebetulan. Dan memang seperti itulah hal-hal besar. Pastilah dimulai dari sebuah kebetulan.

kopi-kopi

Awalnya seorang penggembala dari Ethiopia, Khalid, mengamati kawanan kambing gembalaannya yang tetap terjaga bahkan setelah matahari terbenam setelah memakan sejenis beri-berian. Dan layaknya manusia terhormat yang usil ingin tahu, ia pun mencoba memasak dan memakannya. Itulah kali pertama manusia mencicipinya. Terhormat sekali gembala ini. Dalam sejarah pertumbuhan kopi sedunia yang kini merupakan minuman tervaforit, ternyata gembala-lah yang mencicipi minuman spesial ini. Bukan bangsawan.

Para bangsawan, terutama dari Eropa, yang kemudian memberikan nilai keagungan pada minuman ini. Alhasil, kopi di cafe-cafe Eropa merupakan minuman elit yang mahalnya tak logis. Bahkan, Paus sampai perlu membaptis kopi sebagai minuman resmi orang-orang Italia. Luar biasa. Namun, kepopuleran kopi dimulai di benua Afrika. Meski masih konvensional dalam penyajiannya, tapi kopi sudah menjadi kebiasaan di sana. Lalu menyebarlah kopi ke lidah orang-orang Arab. Orang-orang Arab langsung jatuh cinta dengan minuman ini. Pasalnya, bagi mereka, kopi dianggap sebagai minuman energi yang dapat membuat mereka kuat beribadah. Budidaya kopi dimulai di Arab ini. Penyajian pun berkembang. Dari yang tadinya hanya dimasak, kopi juga direbus sebelum disajikan.

Kopi menginjakan kakinya di Eropa pertama kali dengan diantar oleh seorang saudagar Venezia pada 1615. Ia mendapat pasokan dari Turki. Sayangnya, pasokan kopi terbatas. Maka mulailah orang-orang Eropa membudidayakan kopi. Belanda termasuk salah satu dari negara-negara yang pertama  membudidayakan kopi. Orang-orang Belanda termasuk berhasil membudidayakannya. Tahun 1690, kopi dibawa ke Jawa untuk dikultivikasi secara besar-besaran oleh Belanda. Meski demikian, orang-orang Perancis dan Italia-lah yang benar-benar memanfaatkan habis-habisan keagungan cita rasa kopi. Kedai-kedai kopi elit yang termasyhur bermunculan di negara-negara ini. Minum kopi bagi orang Eropa pun menjadi sebuah pekerjaan elegan, terhormat dan penuh gengsi.

Gaya orang Eropa dalam memaknai kopi memberikan inspirasi bagi Howard Schultz untuk merevolusi Starbucks. Anda tahu, Starbucks awalnya tidak seelit yang sekarang. Starbucks hanyalah bagian dari hidup instan ala McDonald. Dulu, Starbucks di Seattle identik dengan antrian para pekerja yang membeli kopi instan dan diminum dalam perjalanan ke kantor, kasir bergaji kecil serta harga kopi yang murah. Namun, Bapak Schultz datang dan menggebrak semuanya. Starbucks mengubah konsep dagangnya menjadi lebih mirip gaya minum kopi cafe-cafe di Eropa.

starbucks, icon industri kopi dunia

Idenya berhasil.

Starbucks segera menjadi penggerak utama gaya hidup dan sosial yang baru. Orang-orang jadi terbiasa minum kopi sambil menyelesaikan pekerjaan, rapat atau hanya sekedar membaca buku dan mengobrol ringan di Starbucks. Bahkan, Starbucks sampai menyumbangkan beberapa kosakata budaya pop seperti “barista” atau “frapucino” (reney.wordpress.com). Status Amerika sebagai pengonsumsi kopi terbesar di dunia mendukung kebesaran Starbucks. Memang bermuculan nama-nama lain. Tapi siapa yang bisa menandingi jaringan global milik Starbucks ? Kopi berubah menjadi bisnis elit bernilai sangat mahal.

Lama kelamaan, kopi menjadi identitas kelas, ikon budaya, juga penanda konstruksi sosial suatu individu atau masyarakat. Bagi masyarakat kelas atas, ritual minum kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Di sana ada interaksi bernuansa santai, tapi tak jarang berlangsung serius.

Cita rasa kopi juga semakin beragam. Kopi tak lagi hanya cairan hitam pekat, tetapi sudah banyak jenisnya dengan berbagai campuran hasil industrialisasi modern. Ada cappucino, frappio chocochip, caffelatte, moccalatte dan lain sebagainya. Di berbagai kota, berbagai usaha kafe tumbuh sangat marak menyajikan beragam kopi, sehingga memudahkan para pecinta kopi menikmati waktu sambil bersantai, berbincang, bahkan memperteguh cinta dan tali kasih antar sepasang kekasih. Atau membuang sedih akibat persoalan hidup dan retakan rumah tangga (www.hariansumutpos.com).

Perubahan rasa kopi ini juga menjadi bagian dari perubahan konstruksi hidup masyarakat metropolis. Orang-orang kota kini menghabiskan waktu di kafé-kafé sambil menikmati kopi dengan sebuah laptop dan fasilitas hot spot membuang sepi, tapi tak peduli kondisi masyarakat sekitarnya. Banyak orang menyayangkan pergeseran budaya komunal ke budaya yang lebih individuistik di negara kita. Saya tidak terlalu peduli dengan sikap individuistik orang-orang kota di cafe. Bagi saya, sah-sah saja selama mereka tidak sedang membicarakan hotel mana yang akan di bom atau anggaran milik departemen mana yang mau diubah angkanya. Itu hak mereka. Jadi, bagi anda yang masih menyayangkan pergeseran budaya ini, mari nikmati sajalah hidup ini dengan berbuat baik.

obrolan ditemani kopi

Toh,meski begitu, kedai kopi tetap berperan sebagai perekat sosial untuk masyarakat yang tinggal di pedesaan dan perkotaan tertentu. Sejak zaman dulu di beberapa pedesaan, tradisi minum kopi telah mengakar meski cuma berlangsung sederhana di warung-warung kumal khas desa. Para peminum kopi ini umumnya orangtua, dan warung kopi adalah sarana bagi mereka bersosialisasi dan bertukar pikiran.

Sebenarnya, tak hanya orang tua. Kopi juga yang meramaikan suasana saat anak-anak muda berkumpul bersama. Bagi mereka saat itu, hidup tak berarti kalau tak ada obrolan dan segelas kopi ditambah sebatang dua batang rokok. Lagipula, saya rasa, entah itu eksekutif senior di kantor-kantor sampai tukang becak di komplek-komplek, pastilah mengawali harinya dengan menyeruput kopi. “Slurp” dan hidup menjadi lebih nikmat…

Saat saya baru mencoba kopi untuk pertama kalinya, saya kapok dan bersumpah tidak akan minum kopi lagi. Pahit sekali. Namun, saat yang kedua kalinya menyeruput kopi, rasanya tidak terlalu pahit. Malah enak dan menenangkan. Sumpah saya pun batal.

Saya jadi penasaran. Apa sebenarnya yang ada dalam kopi sehingga punya efek sangat dahsyat ?

Ada beberapa zat yang terkandung dalam kopi. Saya mengambil nama zat-zat ini dari agushardianto.blogspot.com yang menyadurnya dari sebuah tulisan.

  1. Kafein. Seperti nikotin dan kokain, kafein adalah alkaloid, yaitu racun yang diproduksi tanaman. Racun imenutupi receptor syaraf yang menerima adenosin, yaitu sinyal kimiawi tidur. Akibatnya: kita bangun.
  2. Etilfenol. Senyawa berbau tar. Benda ini juga ditemukan di feromon pada kecoa — senyawa yang mereka gunakan sebagai alarm tanda bahaya bagi kelompoknya.
  3. Quinic Acid (Asam Kina?). Ini yang memberi kopi sedikit rasa asam. Tapi senyawa ini juga digunakan sebagai starter pada Tamiflu.
  4. Dicaffeoyl-Quinic Acid. Ini antioksidan di dalam kopi. Saat para ilmuwan mengenakan senyawa ini pada neuron, sel-sel itu meningkat daya lindungnya terhadap kerusakan dari radikal bebas.
  5. Asetilmetil-Karbinol. Rasa mentega yang kaya pada kopi itu berasal dari cairan kuning yang mudah menyala ini.
  6. Putrescine. Kenapa daging busuk beracun? Bakteri E. coli mengurai asam amino menjadi putrescine, yang terdapat secara alami di dalam biji kopi ini.
  7. Trigonelline. Ini molekul niacin yang melekat pada kelompok metil. Ia terurai menjadi pyridin, yang memberi kopi rasa agak manis, aroma tanah, dan mencegah bakteri Streptocollus mutan perusak gigi itu untuk melekat di gigi. Ya, kopi menyehatkan gigi.
  8. Niacin. Trigonelline tidak stabil pada suhu di atas 70ºC, dan dapat terurai menjadi niacin — vitamin B — di cangkir kita. Dua cangkir kopi memenuhi setengah kebutuhan vitamin B harian kita.

Dari semua zat-zat tersebut, kafein-lah yang banyak disorot. Soalnya, kopi mengandung banyak sekali kafein.

struktur molekul kafein

Hingga bisa dibilang, ketika bicara kopi, tentu bicara kafein. Banyak isu seputar kafein yang buruk bagi tubuh. Di antaranya, dapat menyebabkan tekanan darah meninggi, perasaan gelisah, tangan gemetar, jantung berdebar kencang, otot menegang, kadar kolesterol meningkat, membantu terjadi penyumbatan arteri, sembelit, dan diare (resep.web.id). Well, itu benar. Tapi jika dikonsumsi secara berlebihan. Batas aman konsumsi kafein yang masuk ke dalam tubuh perharinya adalah 100-150 mg atau sekitar 2-3 gelas. Dengan jumlah ini, tubuh bisa mampu menyerap manfaat yang dimiliki oleh kafein.

Beberapa penelitian menyingkap bahwa kandungan kafein yang terdapat di dalam kopi ternyata mampu menekan pertumbuhan sel kanker secara bertahap. Selain itu, kafein mampu menurunkan resiko terkena diabetes melitus tipe 2 dengan cara menjaga sensitivitas tubuh terhadap insulin. Kafein dalam kopi juga telah terbukti mampu mencegah penyakit serangan jantung. Pada beberapa kasus, konsumsi kopi juga dapat membuat tubuh tetap terjaga dan meningkatkan konsentrasi walau tidak signifikan. Jangan lupakan pula senyawa antioksidan yang dikandung kopi dalam jumlah yang cukup banyak. Adanya antioksidan dapat membantu tubuh dalam menangkal efek pengrusakan oleh senyawa radikal bebas, seperti kanker, diabetes, dan penurunan respon imun (id.wikipedia.org).

Yang mesti kita perhatikan di sini adalah fungsi utama dari kopi; otak yang lebih aktif. Kata kopi berasal dari kata Arab, qohwah, yang berarti kekuatan. Dan memang, dulu kopi dianggap oleh orang-orang Arab sebagai minuman penambah energi macam extra joss zaman sekarang. Dan itulah yang membuat kopi menjadi favorit orang-orang. Sama seperti rokok maupun narkotik yang sama-sama berefek pada ketenangan pikiran.

Memang tidak semua orang menyukai kopi. Tergantung bagaimana mereka merasakannya. Sama seperti saya yang kapok ketika meminum kopi untuk pertama kalinya. Beberapa penelitian memang menunjukan tidak setiap orang mengalami reaksi yang sama setelah minum kopi. Ada yang langsung bereaksi dan ada pula yang bahkan bereaksi negatif pada kopi. Sebuah pepatah sederhana dari Turki menggambarkannya dengan baik; “Coffee should be black as hell, strong as death and sweet as love”.

Dan pada akhirnya saya harus kembali pada pertanyaan asalnya. Mengapa kopi ?

Khasiat kafein yang memantik pikiran manusia membuat kopi pantas mendapat tempat. Bertukar pikiran ataupun sekedar obrolan ringan memang lebih pas ditemani secangkir kopi alih-alih teh. Rasa kopi yang berat membuat kita bisa lebih memahami hidup yang berat ini dari dalam gelasnya. Tapi, anda tahu, meski saya kelihatannya sudah menyimpulkan sesuatu, namun saya lebih senang dengan pertanyaan itu saja. Aneh memang. Tapi entahlah. Lebih asik apabila beberapa hal kita lihat akibatnya saja tanpa mesti tahu sebabnya. Itu misterinya. Dan ketika kita tersadar ada hal misterius yang menggoda sisi logis kita, kita akan berusaha menjawabnya. Namun kita tetap tidak akan merasa puas meski pertanyaan itu tetap terjawab. Kadang, beberapa pertanyaan memang seharusnya tetap tersimpan menjadi sebuah misteri yang menggoda.

Well, jadi mengapa kopi ? Saya jawab. Karena itulah kopi…

karena kopi...

One thought on “Mengapa Kopi ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s