Catatan Kecil

Rokok Haram ? buat siapa ? …..

http://kampanye.files.wordpress.com/2007/06/040607-antirokok.jpg
rokok
  1. Merokok termasuk kategori perbuatan melakukan khabaa’its (kotor/najis) yang dilarang dalam Al Quran Surat Al a’raf (ayat) 157.
  2. Perbuatan merokok mengandung unsur menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dan bahkan merupakan perbuatan bunuh diri secara perlahan sehingga itu bertentangan dengan larangan Al Quran Al Baqoroh (ayat) 2 dan An Nisa (ayat) 29.
  3. Perbuatan merokok membahayakan diri dan orang lain yang terkena paparan asap rokok sebab rokok adalah zat adiktif plus mengandung 4000 zat kimia, 69 di antaranya adalah karsinogenik/pencetus kanker (Fact Sheet TCSC-AKMI, Fakta Tembakau di Indonesia) sebagaimana telah disepakati oleh para ahli medis dan para akademisi kesehatan. Oleh karena itu merokok bertentangan dengan prinsip syariah dalam hadits Nabi SAW bahwa “tidak ada perbuatan membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain.”
  4. Rokok diakui sebagai zat adiktif dan mengandung unsur racun yang membahayakan walaupun tidak seketika melainkan dalam beberapa waktu kemudian sehingga oleh karena itu perbuatan merokok termasuk kategori melakukan sesuatu yang melemahkan sehingga bertentangan dengan hadits Nabi SAW yang melarang setiap perkara yang memabukkan dan melemahkan.
  5. Oleh karena merokok jelas membahayakan kesehatan bagi perokok dan orang sekitar yang terkena paparan asap rokok, maka pembelanjaan uang untuk rokok berarti melakukan perbuatan mubazir (pemborosan) yang dilarang dalam Al Quran Surat Al Isra (ayat) 26-27.
  6. Merokok bertentangan dengan unsur-unsur tujuan syariah (maqaasid asy-syariiah) yaitu perlindungan agama, jiwa/raga, akal, keluarga dan harta.

Enam poin di atas merupakan dalil yang dikemukakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dalam naskah bernomor 6/SM/MTT/III/2010. Fatwa ini dikeluarkan tanggal 8 Maret 2010. Sebelumnya, Muhammadiyah pernah berfatwa bahwa rokok itu mubah atau dibolehkan. Namun, setelah menimbang semua fakta yang terkumpul, fatwa pun berubah menjadi haram.

MUI sebenarnya juga sudah menggodok fatwa haram rokok. Namun, seperti biasa, ada pro dan kontra di sini. Antara pendukung fatwa rokok haram dan yang tidak setuju akan haramnya rokok, tetap akan mengundang perdebatan yang tidak ada habis-habisnya.

Dan, seperti yang bisa diduga, fatwa haram dari Muhammadiyah sontak menimbulkan banyak protes di sana-sini. Terutama dari pihak produsen rokok. Juga dari para petani tembakau. Di sisi lain, ada juga yang mendukung fatwa tersebut. Siapa lagi kalau bukan para aktivis dan para LSM dari berbagai golongan masyarakat. Namun, rasanya, tanpa adanya fatwa tentang rokok itu pun, perdebatan memang akan terus terjadi.

Sebenarnya, rokok sendiri sudah menjadi sebuah simbol yang tak bisa dilepaskan dari seluruh manusia di dunia ini. Seperti halnya garam atau bumbu masakan lainnya. Atau juga seperti tuak dan minuman keras lainnya. Jadi, wajar lah jika rokok ditentang, pasti penentangnya akan balas ditentang lagi. Perdebatan tentang rokok juga yang diangkat oleh John Grisham dalam salah satu karyanya, “Juri Pilihan”, edisi bahasa Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama. Rokok dianggap salah satu masalah penyebab kematian, dan karena anggapan inilah, perusahaan-perusahaan rokok digugat oleh masyarakat.

Terlepas dari perdebatan abadi antara rokok dan anti rokok, menurut saya, semua dalil yang diungkapkan Majelis Tarjih Muhammadiyah masuk akal. Apalagi dalil tersebut didasarkan pada Al-Quran dan Al-Hadis. Muhammadiyah tampaknya memakai qiyas yang cukup tepat. Tapi, sebenarnya, empat dalil yang pertama saja sudah cukup untuk menimbang rokok itu haram. Walau begitu, nampak lebih sah dengan ditambah dua dalil terakhir.

Nah, sekarang permasalahannya bukan pada fatwanya. Tapi pada ummat itu sendiri. Kebanyakan, umat Islam menganggap rokok itu makruh. Boleh saja merokok, asalkan tidak mengganggu orang lain. Soalnya, memang pengaruh rokok tidak langsung segera tampak setelah rokok habis. Tapi justru sepuluh tahun yang akan datanglah pengaruhnya baru muncul. Lagipula pengaruhnya tidak cukup kelihatan bagi semua perokok. Ada perokok yang biasa-biasa saja kesehatannya. Ada juga perokok yang akhirnya meninggal karena rokok. Makanya, anggapan umat, rokok itu makruh. Jadi, apa umat akan segera meninggalkan rokok ?

Hmm, seandainya Indonesia adalah Arab Saudi, saya yakin, semua rokok akan dibuang dari negara tersebut. Tapi Indonesia tetaplah Indonesia. Bahkan gara-gara rokok, Sampoerna menuai kekayaan yang luar biasa. Buka cuma Sampoerna saja, semua pengusaha rokok di mana pun tidak ada yang miskin. Betul kan.

Nah, meski pun diharamkan, saya rasa rokok tidak akan pernah hilang di Indonesia, selama tidak ada ketegasan dari pemerintah dan kesadaran dari orang Indonesia sendiri. Haram atau halal adalah sesuatu yang abstrak bagi manusia. Konsep pahala dan dosa akan sulit menyentuh kesadaran para perokok. Sebab, merokok itu adalah pilihan. Kecuali, kalau memang negara menarik semua rokok dari pasar, barulah Indonesia akan bebas dari rokok.

Merokok bukanlah sesuatu yang dianggap tabu oleh masyarakat. Bahkan, rokok dianggap simbol kejantanan seorang lelaki. Atau simbol kemewahan yang harus dimiliki oleh setiap orang. Juga dianggap sebagai simbol yang dapat mempererat persaudaraan. Itu yang saya tangkap dari perlakuan orang-orang terhadap rokok. Anda mungkin juga punya persepsi lain tentang rokok. Tapi, harus diakui, rokok sangat penting bagi para perokok.

Lalu, berarti fatwa Muhammadiyah sama sekali tidak berarti ? Bahkan sia-sia ?

Bisa ya, juga bisa tidak. Ya, bagi para perokok berat. Tidak bagi orang-orang anti rokok. Pastilah perdebatan akan terus ada gara-gara benda ini. saya pun cenderung menganggap fatwa ini hanyalah semacam nasihat saja. Tidak lebih dari itu. Tidak seperti ketika wahyu mengatakan semua yang memabukan itu haram. Dan semua orang pun tidak ada yang menyentuh minuman keras lagi. Padahal, sebelumnya, orang-orang Arab tidak bisa lepas dari tuak dan sejenisnya.

Kini, rokok pun punya cerita yang sama. Bedanya, apa hukum yang telah diputuskan bisa mempengaruhi umat atau tidak. Sepertinya dalam waktu dekat ini tidak. Akhirnya pun, cerita ini bermuara pada diri kita masing-masing. Manakah yang kita pilih ? Merokok atau tidak merokok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s