Catatan Kecil

Kok sulit ? Padahal Baik ….

ummuazhar.wordpress.com
berbuat baik

Berbuat baik itu sulit…

Pak Jaya Suprana menulis sebuah artikel yang menggugah di Kompas 7 Agustus 2010 lalu. Dia bercerita tentang bagaimana Pak Dahlan Iskan, Bupati Banyuwangi, Bupati Jembrana dan bahkan ia sendiri, yang sepertinya kesulitan untuk berbuat baik. Ada saja rintangannya. Cemooh lah, hujatan lah, bahkan pencegahan dari perbuatan baik. Saya jadi bertanya, apa sesulit itu ya ?

Saya, ketika masih mondok, selalu mendengar teman-teman pondok saya ngomel-ngomel tentang ustadz yang “sangar”. Ustadz model begini sangat keras kalau mendidik. Bahasa lainnya “galak”. Mengomel tentang tingkah ustadz ini lah, membicarakan tentang kelakuannya yang aneh lah, malah ada yang memberikan julukan-julukan bagi ustadz-ustadz model begini. Tapi tidak semua teman saya lho. Ada juga yang kalem saja menghadapi ustadz model begini. Ada juga yang menganggap itu semuanya baek. Saya termasuk yang kalem untuk urusan seperti ini. Percaya deh, dibalik sangar-nya sang ustadz, pasti dia akan membawa kita ke jalan yang lurus. Menurut saya, sih. Namun, sedikit sekali orang yang berpendapat seperti saya ini. Mayoritas teman saya malah sering ngomel-ngomel tentang ustadz model begini. Saya sendiri sempat terpengaruh. Saya pikir, benar juga. Tapi setelah saya sebentar lagi lulus dari pondok, saya jadi menggaruk kepala. Ada yang salah, saya pikir. Saya dan teman-teman, baik yang sering mengomel ataupun yang kalem-kalem saja, toh semuanya sudah diambang kelulusan. Dan ini, meski secara tidak langsung, juga berkat ustadz-ustadz sangar ini. Diakui atau tidak, ustadz sangar ini memberikan pengaruh juga buat kelulusan kami. Artinya, dia sudah memberikan kami kebaikan  yang, meski ironis, sangat sedikit diakui.

Kebalikannya, ustadz-ustadz yang – kami sebut mereka “gaul” – memang banyak disukai. Mereka selalu membuat kami tertawa. Tapi, apa yang mereka berikan hanyalah sekedar hiburan atau sedikit intermezzo. Yang lebih membuat saya mengerutkan kening, ustadz-ustadz yang selalu berbicara tentang ilmu, kebaikan dan berbagai macam nasehat justru lebih banyak diabaikan. Catat, diabaikan. Kebanyakan santri, termasuk saya😉, pasti lebih mudah ngantuk di kelas kalau ustadz-ustadz model begini yang masuk. Entah apa yang ada dalam benak ustadz itu. Mungkin hanya bisa mengelus dada. Dan beginilah style orang baek-baek, mengelus dada. Yang pasti, dan membuat saya merinding kadang-kadang, ustadz-ustadz ini malah mendoakan kami, yang notabene cuek bebek terhadapnya. Aduh, giliran saya yang mengelus dada. Saya bisa bayangkan ustadz-ustadz baik ini, entah yang model “sangar” atau model “diabaikan” kemudian bertitah dalam diam, sulit memang…..

Lalu saya tersenyum. Dalam beberapa forum di internet, ada banyak orang yang mempertanyakan hal ini. Kenapa ya, kok berbuat baik itu sulit, dan berbuat buruk itu malah mudah ya ? Bahkan, ketika iseng-iseng melihat thread-thread kaskus yang jadul, saya sempat tersenyum. Ada kaskuser yang iseng bertanya, kenapa ya cowok baek sulit dapet cewek ? Banyak yang reply. Tapi kebanyakan setuju, cowok baik pasti akan bertemu dengan cewek baik, dan itu sulit. Halah, lagi-lagi keyword baik bermesraan dengan keyword sulit.

Dan hidup adalah kertas yang sudah banyak menunjukan kemesraan kedua kata tersebut. Banyak banget cerita orang-orang yang berbuat baik, tapi malah hidupnya sulit sekali. Cerita-cerita ini termanifestasikan dalam bentuk mahakarya orang Indonesia yang paling fenomenal, sinetron. Lagipula, saya yakin, anda juga punya banyak cerita suka duka tentang perbuatan baik yang selalu tidak mudah.
Pikiran saya yang masih penasaran kembali mengembara. Hasilnya saya menemukan sebuah hadis. Ini hadisnya.
Dari Abul Abbas, yaitu Abdullah bin Abbas bin Abdul Muththalib, radhiallahu ‘anhuma dari Rasulullah s.a.w. dalam suatu uraian yang diceriterakan dari Tuhannya Tabaraka wa Ta’ala – Hadis semacam ini disebut Hadis Qudsi – bersabda:”Sesungguhnya Allah Ta’ala itu mencatat semua kebaikan dan keburukan, kemudian menerangkan yang sedemikian itu – yakni mana-mana yang termasuk hasanah dan mana-mana yang termasuk sayyiah.
Maka barangsiapa yang berkehendak mengerjakan kebaikan, kemudian tidak jadi melakukannya, maka dicatatlah oleh Allah yang Maha Suci dan Tinggi sebagai suatu kebaikan yang sempurna di sisiNya, dan barangsiapa berkehendak mengerjakan kebaikan itu kemudian jadi melakukannya, maka dicatatlah oleh Allah sebagai sepuluh kebaikan di sisiNya, sampai menjadi tujuh ratus kali lipat, bahkan dapat sampai menjadi berganda-ganda yang amat banyak sekali.
Selanjutnya barangsiapa yang berkehendak mengerjakan keburukan kemudian tidak jadi melakukannya maka dicatatlah oleh Allah Ta’ala sebagai suatu kebaikan yang sempurna di sisiNya dan barangsiapa yang berkehendak mengerjakan keburukan itu kemudian jadi melakukannya, maka dicatatlah oleh Allah Ta’ala sebagai satu keburukan saja di sisiNya.”
(Muttafaq ‘alaih). Well, saya rasa tidak sia-sia lah jika kita sudah berbuat baik. Dan ketika anda suatu kali merasa menyesal sudah berbuat baik, ingat saja masih ada Tuhan yang menilai. Meminjam bahasa Andrea Hirata, Tuhan tahu tapi menunggu..

Sebenarnya, saya agak malu setelah membaca kembali cerita-cerita tentang kebaikan yang jadi sulit. Mereka, dengan niat baik yang insya Allah tulus, pada kenyataannya malah mendapat hujatan dan cemooh. Walah, sedangkan saya, baru menerima kritikan yang halus “banget” sudah ngambek-ngambekan. Lagipula, membaca kembali cerita dari Pak Jaya atau dari yang lainnya, saya kembali berpikir ulang. Bila Pak Dahlan Iskan sudah sampai niatan menggratiskan listrik untuk semua orang, saya baru sampai menggratiskan senyum saya saja kepada semua orang. Aduh, baru sekedar tersenyum lho. Padahal kan saya rasa saya bisa berbuat baik lebih daripada itu. Menyesal juga sih. Kenapa hidup saya, kalau tidak ada kuliah, cuma berkisar dari laptop ke tv saja. Lalu dari kasur ke kamar mandi atau meja makan saja. Malu sekali saya pada orang-orang yang sudah berbuat baik hingga memancing reaksi yang amat buruk dari orang-orang.  Anyway, saya sangat berterima kasih pada tulisan Pak Jaya yang seolah seperti mengingatkan saya dan orang-orang lain.

Nah, kini, pertanyaan besarnya adalah mengapa ? Mengapa berbuat baik itu jadi lebih sulit daripada berbuat jahat ? Pak Jaya menyinggung soal masifnya kejahatan dalam kehidupan kita. Sampai-sampai kejahatan tersebut dianggap lumrah oleh diri kita. Jadilah sebuah mental yang terus menerus berkembang menjadi sebuah budaya. Andy F. Noya punya pendapat lain yang menarik (maaf, saya tidak ada linknya). Berbuat baik menjadi sulit karena sudah akutnya individualisme orang-orang Indonesia. Orang zaman sekarang hanya ingin berada di zona aman  dan tidak ingin bersusah-susah demi orang lain. Itulah penyakitnya. Dua-duanya, menurut saya betul semuanya. Sudah biasanya berbuat jahat ditambah dengan individualisme cari aman, membuat apatisme lebih lanjut, dan kemudian menjurus pada apa yang selalu dikobarkan oleh Machiavelli “segala jalan dapat dibenarkan asalkan dapat mencapai tujuan”. Ah, tak bisa dilupakan pula perbenturan antar ego, yang saling menghendaki kemauannya sendiri dan melupakan adanya ego yang lain. Di saat satu ego berbenah dengan sebuah kebaikan, rupanya ego lain dengan kepentingannya sendiri tidak nyaman dan berusaha melawanya. Saya kembali merenung dan akhirnya mendapatkan satu benang merah. Saya berpikiran, betul sekarang berbuat baik itu sulit. Namun lebih sulit lagi memperbaiki diri…

(Maaf kalau anda terpaksa harus menyimak renungan seorang pemalas seperti saya ;-))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s