Catatan Kecil

Misitisme yang tak pernah Lengkang

Apa yang ada di benak anda apabila ada orang yang menceritakan tentang hal-hal mistis ? Atau apa yang anda rasakan ketika menonton film-film misteri ? Banyak orang termasuk saya akan merasa takut atau paling tidak merinding setelah mendengar atau menonton hal-hal mistis. Yah, wajar saja, sebab mistisme memang dipenuhi hal-hal yang berbau misteri, kejahatan serta kematian. Ditambah dengan keadaan masyarakat Indonesia yang mayoritas masih menganggap hal-hal mistis itu nyata. Lengkap sudah. Bagi para penakut, sebaiknya pindah dari negeri ini dengan segera.

Dalam tulisan ini, saya tidak sedang membuat ukuran tentang takut ataupun berani. Tidak. Ukuran orang penakut dan pemberani itu harus diukur dengan ukuran yang pas. Dan perasaan akan hal berbau mistis, saya rasa tidak masuk hitungan.

Lebih dari itu, saya sedang mencoba mengukur iman saya dengan menggunakan parameter hal mistis ini. Banyak orang yang menganggap iman kita sama saja lemah apabila mempercayai cerita mistis. Tapi banyak juga yang menganggap, kita musti percaya akan adanya hal-hal mistis seperti itu. Hmm, menurut saya, seing is believing. Kalau sudah mengalami barulah saya akan percaya. Yap, saya anggap hal-hal mistis seperti itu hanya semacam olah raga jantung saja dan pemacu rasa penasaran. Hanya sebatas itu. Jadi, saya tidak percaya hal mistis.

Lalu bagaimana dengan iman terhadap hal yang gaib ? Bukankah hal-hal mistis termasuk hal yang gaib ?

Betul. Saya tentu juga percaya terhadap hal gaib. Tapi inilah masalahnya. Hal gaib seperti apa dulu ? Adanya bangsa jin atau iblis tentu merupakan hal yang nyata. Tidak bisa kita pungkiri lagi. Saya tentu percaya hal tersebut. Apalagi tentang mukjizat atau karomah. Atau tentang para malaikat. Tentu saya percaya. Dan anda juga harus musti percaya akan adanya hal-hal yang berada di luar batas nalar kita.

Tapi kalau hal gaib itu sudah diberi gambaran seperti kuntilanak, sinderbolong, pocong dan teman-temannya, ah, saya kurang percaya. Malah tidak percaya. Meski hal-hal itu ada dan beberapa orang pernah mengalaminya, toh, saya tidak pernah mengalami peristiwa mistis seperti itu. Alhamdulillah. Jadi, saya lebih memilih tidak percaya hal tersebut. Saya lebih percaya pada pengertian bahwa setan itu adalah yang menggoda anak adam dan berada di dalam dada. Entah itu menggoda kita untuk maksiat maupun syirik terhadap Allah SWT.

Namun, saya bukannya tidak takut dengan segala hal yang berbau mistis. Justru saya agak takut. Soalnya, kita kan tidak tahu apa yang bakal terjadi setelahnya. Suatu kali, saya pernah dikirimi sms. Isinya, saya tidak ingat dengan detail, mengatakan bahwa sms ini berasal dari seorang gadis yang bunuh diri karena ditinggal pacarnya. Sebelum bunuh diri, entah karena terjun ke jurang atau gantung diri, ia sempat bernyanyi. Ia menyuruh saya melalui sms itu untuk menghubungi sebuah nomor kalau saya tidak percaya. Pasti saya akan mendengarnya bernyanyi. Selanjutnya ia bilang, ia akan mengganggu saya dari bawah kolong tempat tidur saya. Tapi ia tidak akan melakukannya seandainya saya melakukan sesuatu.

Saya disuruh mengirimkan sms ini ke 44 orang lain jika tidak ingin diganggu oleh arwahnya. Terakhir, ada permintaan maaf dari pengirim sms ini (orang sungguhan, kelihatannya teman saya). Ia minta maaf karena telah mengganggu saya. Tapi ia terpaksa melakukannya. Soalnya, beberapa orang sudah mendengar ia bernyanyi. Dan ia tidak ingin diganggu-ganggu.

Jika anda adalah saya, apa yang akan anda lakukan ?

Atau untuk yang lebih simpel, apa yang anda rasakan ?

Awalnya, saya agak tegang. Wah, gimana nih, batin saya tegang. Saya tidak merinding. Saya cuma tegang.( Beda ya, istilah tegang dengan merinding. Cek di kamus deh). Saya baca sms itu sekali lagi. Saya mulai membayangkan yang aneh-aneh. Mulai takutlah saya. Saya segera mengecek sisa pulsa yang ada. Apa cukup untuk mengirim kepada 44 orang. Cukup. Dan ketika saya mulai menekan tombol untuk mengirim sms ini, pikiran saya mendadak merasa aneh.

Kok, mau-maunya saya mengirim sms yang nyaris sama sekali tidak ada gunanya ini. Saya sama saja membuang-buang pulsa saya. Saya terdiam lama. Batin saya pun berdebat seru. Kirim atau tidak.

Selanjutnya, saya berpikir begini, apa sih pentingnya mengirim sms ini ? Biar tidak diganggukah ? Alah, mungkin mereka memang diganggu. Tapi apa saya pasti diganggu ? Kan belum tentu. Terus, apa sih isi sms ini ? Tidak mengandung manfaat sama sekali. Mengirimnya tidak bakal mendapat pahala sama sekali. Malah mungkin akan mendapat arus negatif dari orang lain. Bagaimana dengan nomor yang disuruhnya untuk dihubungi jika tidak percaya ? Ah, buat apa dihubungi. Paling yang bernyanyi RBT-nya. Bisa saja kan diakal-akali. Saya pun menimbang dari sudut lain. Sudut iman. Saya sudah menyerahkan hidup saya pada Allah. Saya percaya sepenuhnya pada-Nya. Kalau saya pada akhirnya diganggu, saya akan meminta pada Allah untuk melindungi saya dari cewek tidak waras itu. Daripada saya harus mengorbankan iman saya, saya lebih baik tidak mengirim sms ini. Sia-sia.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menghapus sms ini saja. Kalau disimpan, malah menggoyahkan iman saya. Yah, maka saya pun menghapus sms ini dari hp saya selama-lamanya. Sedikit lega. Tapi masih was-was. Siapa tahu betul. Makanya saya jadi rajin berdoa. Takut diganggu, hehehe.

Apakah ada gangguan setelahnya ? Tidak ada sama sekali. Hingga malam menjelang. Sekedar catatan, saya menerima sms itu pagi hari. Nah, malamnya, setelah saya menghapus sms itu, saya mengalami peristiwa yang menegangkan.

Ketika itu, saya tengah menonton TV bersama ibu saya. Tiba-tiba dari luar rumah terdengar suara gemerisik daun dari luar pekarangan. Deg ! Apa itu ? Saya benar-benar tegang. Seakan belum selesai dengan gangguan tadi, menyusulah dering telpon yang berbunyi satu kali. Walah, masya Allah. Saya benar-benar takut sekarang. Istighfar segera meluncur dari mulut saya. Saya mengintip dari jendela. Tidak ada apa-apa. Telpon pun tidak ada yang menjawab karena cuma satu deringan. Sudah lega ? Belum. Enak saja. Saya belum bisa menghela nafas lega. Soalnya saya belum pergi ke kamar. Siapa tahu nanti ada bunyi-bunyi lain yang jauh lebih menegangkan. Saya pun memutuskan untuk meneruskan menonton. Kali ini sendirian. Ah, tapi lama-lama saya jadi tidak tenang. Saya pun memutuskan tidur. Duh, tegang juga. Tidak ada apa-apa memang. Bahkan sampai pagi. Wah, baru saya bisa lega. Ternyata memang saya tidak diganggu. Saya yakin Allah-lah yang melindungi saya. Lagipula, bisa saja gemerisik itu disebabkan oleh kucing atau tikus. Dan bisa saja dering telpon itu berasal dari teman saya yang salah menekan nomor. Kan bisa jadi.

Nah, anda silahkan mengambil sikap anda sendiri. Jika anda menemui hal-hal seperti itu, tergantung anda menyikapinya. Namun, saya rasa, kalau tidak ingin diganggu oleh arwah atau semacamnya, lebih baik jangan berpikiran akan diganggu. Jika kita sudah berpikir bakalan diganggu, ya tentu saja gangguan akan datang. Walau itu bukan dari makhluk halus, tetap saja pikiran kita menganggapnya betul-betul dari makhluk halus. Itulah yang biasa kita sebut suu-dzon. Makanya, agama Islam, dan bahkan ajaran hidup mana pun, tidak memperbolehkan suu-dzon atau prasangka.

Tinggal anda sebenarnya yang memutuskan sikap. Pilih kanan atau kiri. Atau malah di tengah-tengah. Yang pasti, lihatlah dari berbagai sudut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s