Catatan Kecil

Balada Khutbah Jumat

khutbah jumat
khotib berceramah
Ah, ceramah. Kenapa Islam tidak pernah lepas dari ceramah. Setiap ada suatu acara, pasti di sana ada ceramah.

Dalam surat Al-Ashr, memang disebutkan, sesama manusia harus saling menunjukan pada kebenaran dan mendorong pada kesabaran. Dan akhirnya, implementasinya pun muncul dalam bentuk ceramah. Tidak ada masalah. Baik-baik saja selama ini. Apalagi di Indonesia memang banyak sekali tukang ceramah – yang lebih cenderung disebut da`i – hebat. Pada dasarnya, memang orang Indonesia pintar sekali berbicara atau berdebat. Lihat saja wakil rakyat di DPR. Atau narasumber di televisi-televisi. Mereka, harus diakui, sangat pintar berbicara.

Memang bagus di negeri ini banyak orang-orang dengan kemampuan public speaking yang mumpuni. Tapi, kalau kemampuan para pendengar tidak mumpuni, bagaimana bisa “menunjukan pada kebenaran dan mendorong pada kesabaran” diimplementasikan ?

Inilah masalah yang sebenarnya. Banyak orang bisa bicara, namun sedikit yang benar-benar mendengarkan. Parahnya, banyak juga orang yang berbicara, tapi apa yang dikatakan tidak sama dengan apa yang dikerjakan. Yah, seperti firman Allah, lima taqulu ma la taf`alun. Aih, kalau orang Indonesia sudah ngomong, wuih, di dunia ini serasa hanya ada seorang yang berbicara paling benar. Begitulah.

Tulisan ini berawal dari “rutinitas” Salat Jum`at. Ketika khutbah sedang berlangsung, dan semua orang sedang “khusyuk”, tiba-tiba terdengar sebuah suara “merdu-merdu kasar”. Saya pikir tadinya suara itu hanya bayangan saya saja. Tapi, makin lama semakin keras. Jelas itu bukanlah bayangan saya. Itu suara dengkuran ! Astaghfirullah, dengkuran manusia ! Ketika khutbah Jumat ! Saya jadi nyengir sendiri.

Habis mau bagaimana lagi. Mau ditegur, nanti Solat Jumat kita batal. Mau disenggol, kejauhan tempat duduknya. Yah, saya nyengirlah. Kan kapan lagi ada fenomena seperti ini. Saya pun `ainul yaqin, khotib juga mendengarnya. Lha, wong keras sekali kok. Yang tidak dengar pasti sedang tidur juga.

Namun, setelah saya pikir-pikir, hal seperti itu sebenarnya termasuk wajar tingkat 2. Artinya, sudah biasa tapi sedikit ganjil. Tidur ketika khutbah Jumat sebenarnya bagi sebagian besar laki-laki adalah hal lumrah. Termasuk saya juga, hehehe. Tapi tetap saja perbuatan itu seperti sebuah aib. Maka paling banter, tidur mereka posisinya seperti sedang menunduk. Jadi, tak kentara sedang tidur. Biar dikira merenung mungkin. Atau paling tidak, malu untuk tidur, maka ngantuk pun jadi solusi. Yah, dibanding tidur, ngantuk memang sedikit lebih normal bagi laki-laki ketika Jum`atan.

Dan bagaimana kalau mendengkur ? Hehehe, wajar tingkat 2 lah. Masih dalam kategori wajar, saya bilang. Kan mendengkur salah satu ciri orang tidur, meski tidak semua orang memiliki ciri ini. Tidur pun masih dianggap biasa. Cuma yah, yang agak ganjil dia mendengkur. Biasa mendengkur saat tidur mungkin. Atau mungkin kelelahan ? Bisa jadi. Yang pasti, ia kelepasan saat itu tanpa sadar. Dengan kata lain, ia khilaf.

Nah, lalu, apa yang tidak biasa saat khutbah berlangsung ?

berbaring
nyenyak berbaring

Saya yakin anda punya jawaban masing-masing. Tapi, hal yang pertama kali terpikir oleh saya adalah berbaring. Tidur itu biasa, tapi kalau berbaring, itu baru luar biasa. Menyalahi kode etik Jumatan, meski tidak ada kode semacam itu. Tapi kan itu sudah di luar batas manusia. Cuma hewan yang tidak punya muka seperti itu.

Ada lagi ? Ya, menangis. Menangis ketika khutbah adalah hal lain yang amat sangat luar biasa. Coba lihatlah di sekeliling anda ketika Jumatan. Temukan orang yang menangis ketika itu. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya kepala-kepala yang menunduk. Tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan. Antara tidur dan merenung nyaris tidak berbeda. Sangat sulit mencari orang yang menangis. Kalaupun ada, mungkin tidak akan kelihatan.

Padahal, seharusnya menangis menjadi hal yang wajar. Dan sebaliknya, tidur atau ngantuk, adalah hal yang tidak bisa diterima. Mana pernah Rasul menganjurkan untuk tidur daripada menangis. Bahkan dalam salah satu pepatah, “sodiquka man abkaka, la man adhakaka”, intinya, sahabatmu itu yang membuatmu menangis, bukan yang membuatmu tertawa. Apalagi tidur. Toh, menangis merupakan hal yang sering dilakukan Rasul atau para Sahabat dan orang-orang shaleh. Bukan berarti kita memaksa diri untuk menangis. Jangan. Menangislah yang wajar. Menangis karena Allahlah yang membuat kita merasa nikmat.

Lagipula, mendengarkan khutbah adalah hal yang wajib. Banyak sekali dalil-dalilnya. Kalau perlu tanya saja pada guru agama anda. Bahkan berkata “ssshhh” saja sudah batal. Nah, kalau kita tidur ketika itu, apa kita mendengar isi khutbah itu ? Mungkin kalau kita seperti Gus Dur – maaf Gus – kita baru bisa mendengarkan khutbah sambil tidur. Tidur tetap saja tidur. Anda tidak akan pernah sadar sebelum anda bangun. Maka, boleh dikatakan, ketika anda tertidur, anda sama saja tidak Sholat Jumat.

Memang ironis melihat sebuah paradoks seperti ini. Apa artinya ? Saya tidak akan menjawab. Silahkan para pembaca yang menjawab. Karena, jawaban yang akan muncul adalah jawaban yang akan membuat hati ini miris. Tapi, semoga, dan semoga Allah tidak terburu-buru menampar kita yang sedang bingung ini. Mudah-mudahan kita cepat sadar sebelum tertampar.

One thought on “Balada Khutbah Jumat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s