Catatan Kecil

Sumpah Serapah Sampah

banjir menghadangJangan bilang kalau manusia itu munafik !

Bagi saya, manusia itu benar-benar amat sangat munafik. Contoh terdekat, ya saya ini. Saya seolah-olah memberikan kesan, saya ini tidak munafik. Soalnya saya menyalahkan manusia. Tapi, saya kan juga manusia. Apa itu bukan munafik namanya ?

Munafik sendiri berasal dari akar kata bahasa arab nafaqo, berarti keluar dari apa yang di hatinya. Nah, maka pantas kalau banyak orang membenci sifat ini. Lha, tadi ngomong A, tapi sebenarnya maksudnya B. Kan, itu namanya menyesatkan.

Moral kita, sebagai manusia yang berperadaban,  merupakan satu parameter yang melandasi baik atau buruknya suatu tindakan. Semisal, membuang sampah di selokan. Mana peduli kita dengan hal semacam itu. Moral kita akan menegur. Cari tempat sampah, nak, begitu kira-kira. Tapi kita akan dengan enteng menjawab, lha, bukannya tadi tempat sampah ? Gampang kan.

Memang hidup itu tidak perlu dipersulit. Karena segala sesuatunya sudah mudah. Kita saja yang mempersulitnya selaku makhluk paling sempurna di muka bumi ini.  Potongan peristiwa tadi dengan mudah kita lupakan. Benar-benar sepele. Tapi, coba lihat ketika musim hujan tiba. Ugh, dua sisi jalan tergenangi air dari selokan. Kita yang sedang berjalan atau berkendaraan mungkin akan mengeluh atau pun sedikit marah-marah. Itu reaksi wajar. Namanya manusia, fitrahnya kan mau enak dan tidak ingin diganggu. Tapi, apa ada rasa menyesal ?

Lho, kenapa harus menyesal ? Apa salah kita ? Salah kita adalah sampah. Yap, siapa suruh nyampah di selokan. Kalau tidak mau kesal gara-gara kecipratan, ya buang sampah yang wajar-wajar saja. Tidak usah berlebihan.

Enak saja nuduh ! Saya selalu buang sampah di tempatnya kok. Iya, iya. Betul. Itu anda. Tapi selain anda ? Apa setiap orang seperti anda ? Kan tidak. Maka, harus kita pelototi efek domino dari tindakan semacam ini. Kena satu kena semua. Hmm, itulah kehidupan manusia.

Masalahnya, tidak banyak orang yang merasa menyesal ! Jangankan menyesal, merasa bersalah saja sudah sukur. Kita mana peduli dengan kejadian 4 bulan yang akan datang. Termasuk saya. Mana tahu kita akan terjadi banjir. Kan itu satu hal yang tidak pasti. Bisa saja, kita buang sampah di satu selokan, malah selokan lain yang banjir. Kita dengan mudah mengelak dari rasa bersalah. Toh, selokan juga saluran pembuangan. Sah-sah saja saya buang sampah di sini. Toh, akhirnya terbuang juga. Hmm, kreatif. Orang dengan pemikiran seperti ini merupakan jenius salah kaprah. Soalnya, dia tidak bisa membedakan mana sampah buat selokan, dan mana sampah buat tong sampah. Maka, bung, saya sarankan anda untuk meraba-raba sampah supaya bisa membedakan yang mana buat tong sampah dan yang mana buat selokan..

Di suatu pagi  saya lewat di jalanan daerah Sumur Pecung, Serang. Di depan saya ada sepasang bapak dan ibu yang cukup berumur (saya tidak mau asal tebak umur seseorang. Kadang wajah dan rambut tak bicara tentang usia). Sampai di depan sebuah bak sampah yang kumuh (kalau tidak mau dibilang jorok), saya melewati pasangan itu. Mereka tampak mengernyit dan menutupi hidung mereka seolah-olah berkata, uh, payah sekali kota ini. Ngurus sampah saja tidak becus. Saya jadi tergelitik melihat tingkah pasangan yang berumur tadi. Geli sekali. Coba sampah-sampah yang dilewati tadi bisa berbicara, pasti orang-orang tadi (termasuk saya) dimisuh-misuhi. Couk, kowe yang buang aku di sini, malah ngomel-ngomel pas ketemu aku, lebih kurang begitu.sampah di jalanan

Di bak sampah sebelumnya, saya tidak bisa merasa geli melihat peristiwa di sana. Dua orang anak remaja tanggung, dengan gerobaknya, berjongkok sambil memilah-milah sampah di sana. Mencari-cari yang masih bernilai dari kumpulan sisa-sisa konsumsi umat manusia. Saya menghela nafas saat itu. Mereka tidak nampak tidak jijik. Mereka, sama seperti manusia normal lainnya, jijik melihat sampah-sampah itu. Apalagi malamnya sempat turun hujan. Adakah manusia yang tidak jijik ? Ada, tapi orang gila. Sayang, dua anak itu kelihatannya terpaksa dan tidak diberi peluang lainnya. Dua peristiwa yang bertolak, di mana yang satu memandang sampah sumber masalah, dan satu lainnya memandang sampah sumber kehidupan. Gara-gara sampah.anak sekecil itu...

Adakah yang punya solusi buat sampah ? Para pekerja dinas PU kota mungkin punya jawabannya. Cuma jawaban mereka nantinya hanya bakal jadi wacana saja. Sementara mereka pun bekerja keras membersihkan jalanan kota, para warga tampak tidak peduli. Tidak ada bedanya bagi mereka, jalanan yang sudah dibersihkan atau belum. Jadi, harap dimaklumi kalau ada orang yang buang sampah di pinggiran trotoar. Pikirannya sudah benar. Sebab pasti akan bersih lagi. Hanya nuraninya saja yang lenyap entah ke mana.

pahlawan bayanganOrang-orang dinas kebersihan pun seperti mengisi air di bak yang bocor. Tak akan bisa penuh airnya. Mereka cuma sendiri dalam pekerjaan mulianya. Parahnya, tak jarang orang-orang mengabaikan, bahkan meremehkan pekerjaan mereka. Kerjaan kelas coro, menurut pendapat saya dan yang lainnya. Namun setelah saya tahu pekerjaan para pegawai negeri ataupun para jaksa sekalipun, merekalah yang coro. Para pembersih jalan inilah yang pahlawan. Pekerjaan mereka lebih besar daripada yang kita duga. Menyelamatkan kota dari azab ! Berlebihan ? Tidak saya rasa. Habis bagaimana. Kota kotor, timbul penyakit. Selokan kotor, nanti banjir. Jalanan kumuh, menganggu orang. Dan yang lebih penting, kebersihan sebagian dari iman. Kalau tidak bersih berarti imannya kopong. Iman sudah kopong, gampang goyah. Ya sudah, maksiat di mana-mana. Tinggal tunggu azab saja. Sekali lagi, apa berlebihan ?

Namun, malang, mereka cuma sendirian. Mungkin ada warga lain yang peduli. Mereka membuang sampah pas pada tempatnya. Tapi, berapa persenkah ? Ah, tak usah dijawablah. Yang pasti ini tidak membuat para pembersih punya rekan. . Ya, mereka masih sendiri. Dan masih akan sendiri, kalau para warga tidak segera bertindak. Jadi, jangan heran kalau kota ini agak kacau…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s