Arsip

Posts Tagged ‘islam agama ibadah’

Islam Cuma Ada di Mesjid ?

Januari 21, 2011 5 komentar

“Rika, kamu ikut mata kuliah ibu ?”

“Iya bu.”

“Memang agama kamu apa ?”

“Di KTP, agama saya Islam.”

Mengerutkan kening. “Lho kok di KTP ?”

“Iya. Yang nulis itu polisi.”

“Lho ?” Makin bingung.

“Iya bu. Dulu, saya pernah kena sama polisi di jalan. Kemudian, ketika ditanya sim, stnk dan ktp, saya bilang saya WNA. Jadi belum punya ktp. Trus, polisi itu pun mengajak saya untuk membuat ktp. Ya saya nurut saja. Pas ditanya agama kamu apa oleh polisi itu, saya jawab saya tidak tahu.”

“Ha ? Kok tidak tahu ?”

“Ya bu. Soalnya, bapak saya itu katolik, trus masuk hindu. Sedangkan ibu saya itu shinto, tapi meninggalnya dikubur sesuai aturan katolik. Ya saya bingung lah. Jadi, pas polisi itu nanya agama, ya bingung bu. Akhirnya, kata polisi itu, ‘Tak tulis Islam ae yo ?”. Saya Cuma bisa ngangguk bu.”

Kami tertawa mendengar Bu Saidah, dosen Agama Islam, bercerita tentang Rika, mahasiswanya asal Jepang. Ya ampun, gampang sekali ternyata beragama itu. Tinggal tulis di KTP saja. Tapi Bu Saidah kagum dengan pengetahuan Islam milik Rika. Ia tahu apa yang musti dikerjakan oleh orang Islam. Bahkan tahu bagaimana caranya masuk Islam secara “resmi”, bukan asal tulis lagi.

“Memang bagaimana ?”

“Iya, pake pasword bu.”

Tertawa kecil. “Memang paswordnya yang bagaimana ?”

“Yang kayak gitu bu”

“Kayak gitu bagaimana ? Coba deh”

“Ya ibu. Kalau saya coba, saya masuk Islam dong.”

“Betul kamu. Pinter.” Tersenyum.

Kami tertawa lagi, namun tidak sekeras yang pertama. Sampai kuliah usai, saya terus teringat cerita itu. Terlepas rasa penasaran di mana mahasiswa asal Jepang itu sekarang, ada satu hal yang menggugah pikiran saya. Hal itu, yang kita sebut identitas.

Secara resmi, memang KTP itu bisa disebut sebagai identitas kita sebagai penduduk di negara ini. kalau tidak punya KTP, kita bisa dianggap penduduk ilegal. Dan dalam kartu itu, tertera keterangan agama apa kita. Bisa Islam, bisa Katolik ataupun agama-agama lain yang diakui oleh pemerintah.

Itu menjadi salah satu cara kita mengetahui agama seseorang. Lewat KTP. Meskipun pada kesehariannya orang itu tidak pernah ke masjid, bagi yang Islam, atau ke gereja bagi orang Kristen, kalau di KTP-nya tertulis Islam atau Kristen, ya “resmi”lah orang itu disebut orang Islam atau orang Kristen.

Simpel ya.

Sangat simpel malah. Maka, munculah istilah yang, bahkan diangkat jadi judul salah satu sinetron di bulan puasa yang lalu, populer sekarang ini; Islam KTP. Merujuk pada identitas keislaman yang hanya tertera di KTP dan bukannya ditunjukan pada perilakunya sehari-hari.

Namun, pikiran saya tambah gatal. Memang bagaimana sih perilaku Islam sehari-hari itu ? Yang pakai cadar-kah ? Atau yang pakai celana congklang-kah ? Atau yang melihara janggut-kah ? Atau yang sering ke masjid kah – meski malamnya minum Topi Miring, seperti teman saya – ? Atau yang berdiri diam di tengah lobi hotel, lalu tiba-tiba dalam beberapa menit, hotel itu sudah rata dengan tanah-kah ? Ah, akhirnya saya garuk kepala saya.

Yang pasti, perilaku Islam yang asli, itu bisa kita lihat di masjid. Sulit kalau di luar. Kan kita biasanya sering melihat, ada yang kerjanya memeras orang, tapi ia sering ke masjid juga. Wah, gak jelas kan jadinya. Tapi ya gak jauh-jauh dari masjid, pengajian, tahlilan atau tadarusan. Kalau gak kayak gitu, bukan Islam deh namanya.

Pandangan saya dan mungkin sebagian dari anda, terhadap Islam jadi sempit seperti itu. Islam itu, menurut penjabaran dosen saya, sebenarnya mencakup semua lini kehidupan kita ini. Istilah Islamnya, hubungan terhadap Allah, dan hubungan terhadap makhluk-Nya, yang bukan Cuma manusia saja. Jadi, bukan Cuma ibadah tok. Tapi menjangkau ekonomi, sosial, bahkan politik.

Tapi kok jadinya seperti ini ya ? Islam hanya jadi “agama masjid” saja ya ? Bahkan, sekarang, tidak jelas Islam yang mana yang benar. Maksud saya yang hanya dangkal ilmu agamanya ini, banyak sekali versi Islam. Terutama ibadahnya. Yang pake Qunut pas Shubuh atau tidak lah, yang pakai basmalah atau tidak lah. Dan lain sebagainya.

Kita, yang beragama Islam, jadi terkotak-kotak. Kita kadang sinis melihat orang Islam lain yang mengajak kita sholat atau menganjurkan agar kita sabar. Hanya karena dia punya “cara sholat” yang berbeda. Kita menjadi gampang sentimen kalau kita melihat cara beribadah yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Dan lebih parah lagi, beberapa orang Islam bahkan bisa saling kafir mengkafirkan sesamanya. Hanya gara-gara orang itu bukan termasuk dalam “madzhab”-nya. Maka, terjadilah tindakan-tindakan anarkis yang sama sekali tidak menunjukan identitas Islam yang sebenarnya. Selanjutnya bisa ditebak. Kekerasan antar umat beragama bahkan antar Islam sendiri makin marak terjadi. Contohnya peristiwa Ciketing. Dan betapa banyak peristiwa yang sudah lebih dulu terjadi.

Dalam presentasinya, dosen saya menjabarkan inti dari Islam. Rahmat. Menjadi rahmat bagi seluruh semesta. Seluruh semesta. Berarti semua makhluk di dunia ini. Mau manusia, hewan bahkan tumbuhan. Dan mau manusianya muslim a atau muslim b. Atau mau manusianya muslim atau non muslim, semuanya termasuk. Rahmat sendiri berarti kebaikan. Ini yang menjadi identitas sebenarnya bagi umat Islam.

Identitas Islam kita tunjukan bukan hanya pada saat sholat Jumat, lebaran, atau ada yang meninggal saja. Tapi Islam itu ada pada saat kita jalan (bagaimana ya jalan yang Islami ? Saya sendiri gak tahu, hehehe), saat kita berbicara (bukan berarti harus pakai dalil lho, tapi yang santun), saat kita beradu pendapat bertukar pikiran, bahkan saat kita sedang buang air. Berpolitik pun harus yang menjadi rahmat bagi semuanya. Bukan Cuma menjadi rahmat bagi partainya atau ormasnya. Sampai kalau mau bersetubuh, musti berdoa dulu lho (kan ada doanya, ya kan).

Jadi, mengapa kita hanya melihat Islam sebagai agama ibadah saja ?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.