Islam Cuma Ada di Mesjid ?
“Rika, kamu ikut mata kuliah ibu ?”
“Iya bu.”
“Memang agama kamu apa ?”
“Di KTP, agama saya Islam.”
Mengerutkan kening. “Lho kok di KTP ?”
“Iya. Yang nulis itu polisi.”
“Lho ?” Makin bingung.
“Iya bu. Dulu, saya pernah kena sama polisi di jalan. Kemudian, ketika ditanya sim, stnk dan ktp, saya bilang saya WNA. Jadi belum punya ktp. Trus, polisi itu pun mengajak saya untuk membuat ktp. Ya saya nurut saja. Pas ditanya agama kamu apa oleh polisi itu, saya jawab saya tidak tahu.”
“Ha ? Kok tidak tahu ?”
“Ya bu. Soalnya, bapak saya itu katolik, trus masuk hindu. Sedangkan ibu saya itu shinto, tapi meninggalnya dikubur sesuai aturan katolik. Ya saya bingung lah. Jadi, pas polisi itu nanya agama, ya bingung bu. Akhirnya, kata polisi itu, ‘Tak tulis Islam ae yo ?”. Saya Cuma bisa ngangguk bu.”
Kami tertawa mendengar Bu Saidah, dosen Agama Islam, bercerita tentang Rika, mahasiswanya asal Jepang. Ya ampun, gampang sekali ternyata beragama itu. Tinggal tulis di KTP saja. Tapi Bu Saidah kagum dengan pengetahuan Islam milik Rika. Ia tahu apa yang musti dikerjakan oleh orang Islam. Bahkan tahu bagaimana caranya masuk Islam secara “resmi”, bukan asal tulis lagi.
“Memang bagaimana ?”
“Iya, pake pasword bu.”
Tertawa kecil. “Memang paswordnya yang bagaimana ?”
“Yang kayak gitu bu”
“Kayak gitu bagaimana ? Coba deh”
“Ya ibu. Kalau saya coba, saya masuk Islam dong.”
“Betul kamu. Pinter.” Tersenyum.
Kami tertawa lagi, namun tidak sekeras yang pertama. Sampai kuliah usai, saya terus teringat cerita itu. Terlepas rasa penasaran di mana mahasiswa asal Jepang itu sekarang, ada satu hal yang menggugah pikiran saya. Hal itu, yang kita sebut identitas.
Secara resmi, memang KTP itu bisa disebut sebagai identitas kita sebagai penduduk di negara ini. kalau tidak punya KTP, kita bisa dianggap penduduk ilegal. Dan dalam kartu itu, tertera keterangan agama apa kita. Bisa Islam, bisa Katolik ataupun agama-agama lain yang diakui oleh pemerintah.
Itu menjadi salah satu cara kita mengetahui agama seseorang. Lewat KTP. Meskipun pada kesehariannya orang itu tidak pernah ke masjid, bagi yang Islam, atau ke gereja bagi orang Kristen, kalau di KTP-nya tertulis Islam atau Kristen, ya “resmi”lah orang itu disebut orang Islam atau orang Kristen.
Simpel ya.
Sangat simpel malah. Maka, munculah istilah yang, bahkan diangkat jadi judul salah satu sinetron di bulan puasa yang lalu, populer sekarang ini; Islam KTP. Merujuk pada identitas keislaman yang hanya tertera di KTP dan bukannya ditunjukan pada perilakunya sehari-hari.
Namun, pikiran saya tambah gatal. Memang bagaimana sih perilaku Islam sehari-hari itu ? Yang pakai cadar-kah ? Atau yang pakai celana congklang-kah ? Atau yang melihara janggut-kah ? Atau yang sering ke masjid kah – meski malamnya minum Topi Miring, seperti teman saya – ? Atau yang berdiri diam di tengah lobi hotel, lalu tiba-tiba dalam beberapa menit, hotel itu sudah rata dengan tanah-kah ? Ah, akhirnya saya garuk kepala saya.
Yang pasti, perilaku Islam yang asli, itu bisa kita lihat di masjid. Sulit kalau di luar. Kan kita biasanya sering melihat, ada yang kerjanya memeras orang, tapi ia sering ke masjid juga. Wah, gak jelas kan jadinya. Tapi ya gak jauh-jauh dari masjid, pengajian, tahlilan atau tadarusan. Kalau gak kayak gitu, bukan Islam deh namanya.
Pandangan saya dan mungkin sebagian dari anda, terhadap Islam jadi sempit seperti itu. Islam itu, menurut penjabaran dosen saya, sebenarnya mencakup semua lini kehidupan kita ini. Istilah Islamnya, hubungan terhadap Allah, dan hubungan terhadap makhluk-Nya, yang bukan Cuma manusia saja. Jadi, bukan Cuma ibadah tok. Tapi menjangkau ekonomi, sosial, bahkan politik.
Tapi kok jadinya seperti ini ya ? Islam hanya jadi “agama masjid” saja ya ? Bahkan, sekarang, tidak jelas Islam yang mana yang benar. Maksud saya yang hanya dangkal ilmu agamanya ini, banyak sekali versi Islam. Terutama ibadahnya. Yang pake Qunut pas Shubuh atau tidak lah, yang pakai basmalah atau tidak lah. Dan lain sebagainya.
Kita, yang beragama Islam, jadi terkotak-kotak. Kita kadang sinis melihat orang Islam lain yang mengajak kita sholat atau menganjurkan agar kita sabar. Hanya karena dia punya “cara sholat” yang berbeda. Kita menjadi gampang sentimen kalau kita melihat cara beribadah yang belum pernah kita lihat sebelumnya.
Dan lebih parah lagi, beberapa orang Islam bahkan bisa saling kafir mengkafirkan sesamanya. Hanya gara-gara orang itu bukan termasuk dalam “madzhab”-nya. Maka, terjadilah tindakan-tindakan anarkis yang sama sekali tidak menunjukan identitas Islam yang sebenarnya. Selanjutnya bisa ditebak. Kekerasan antar umat beragama bahkan antar Islam sendiri makin marak terjadi. Contohnya peristiwa Ciketing. Dan betapa banyak peristiwa yang sudah lebih dulu terjadi.
Dalam presentasinya, dosen saya menjabarkan inti dari Islam. Rahmat. Menjadi rahmat bagi seluruh semesta. Seluruh semesta. Berarti semua makhluk di dunia ini. Mau manusia, hewan bahkan tumbuhan. Dan mau manusianya muslim a atau muslim b. Atau mau manusianya muslim atau non muslim, semuanya termasuk. Rahmat sendiri berarti kebaikan. Ini yang menjadi identitas sebenarnya bagi umat Islam.
Identitas Islam kita tunjukan bukan hanya pada saat sholat Jumat, lebaran, atau ada yang meninggal saja. Tapi Islam itu ada pada saat kita jalan (bagaimana ya jalan yang Islami ? Saya sendiri gak tahu, hehehe), saat kita berbicara (bukan berarti harus pakai dalil lho, tapi yang santun), saat kita beradu pendapat bertukar pikiran, bahkan saat kita sedang buang air. Berpolitik pun harus yang menjadi rahmat bagi semuanya. Bukan Cuma menjadi rahmat bagi partainya atau ormasnya. Sampai kalau mau bersetubuh, musti berdoa dulu lho (kan ada doanya, ya kan).
Jadi, mengapa kita hanya melihat Islam sebagai agama ibadah saja ?
Azan ? Sikap Kita
Misalnya, saat ini kita sedang tidur ayam-ayaman. Tiba-tiba azan dengan kerasnya terdengar. Nah, apa yang bakal kita lakukan ? Terus tidur atau bangkit dari kasur, lalu mengambil wudhu ? Yah, tergantung iman kita, kan. Kalau lagi ada, tentu kita wudhu. Nah, masalahnya, kalau iman kita sedang hilang sesaat, bagaimana ? Paling kita meneruskan tidur. Ya, kan.
Saya termasuk sering kehilangan iman lho, hehehe. Jadi fungsi azan maghrib bukan panggilan untuk sholat, tapi panggilan ke kamar mandi, hehehe. Jangan tiru adegan ini oke. Demi kebaikan anda.
Saya akhirnya penasaran dengan azan. Bagaimana sih azan bisa ada. Sejarahnya cukup menarik. Azan tampaknya turun dari langit atau dengan kata lain melalui wahyu. Ada sebuah riwayat menarik tentang masalah azan ini.
Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid r.a meriwayatkan sbb :
Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk sholat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja.
Orang tersebut malah bertanya, “Untuk apa ?” Aku menjawabnya bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan sholat. Orang itu berkata lagi, “Maukah kau kuajari cara yang lebih baik ?” Dan aku menjawab, “Ya”.
Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang,“Allahu Akbar,Allahu Akbar.. (lafadz azan yang kita kenal)”
Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perihal mimpi itu kepada beliau. Dan beliau berkata,”Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang.” Lalu aku pun melakukan hal itu bersama Bilal.
Ketika Bilal hendak menyerukan azan, Umar pula datang kepada Nabi s.a.w. dan menceritakan bahawa beliau juga bermimpi seperti yang dialami oleh Abdullah bin Zaid.
Sekilas sejarah azan memang agak mengherankan, menurut saya. Soalnya, masak, azan yang faktanya dari mimpi, bisa disyariatkan. Tapi, selanjutnya ada satu tulisan di salah satu blog yang cukup mengena. Ini kutipannya.
“Namun begitu, mimpi-mimpi tersebut bukanlah menjadi dasar pensyariatan azan karena secara kebetulan lafaz-lafaz azan yang diajarkan oleh Nabi S.A.W. mempunyai persamaan dengan mimpi kedua-dua orang sahabat tadi. Sandaran azan bukan saja melalui mimpi bahkan ia diperkuatkan lagi dengan penerimaan wahyu. Al-Bazzar meriwayatkan bahwa:
“Nabi s.a.w. pada malam isra’ telah diperlihatkan dengan azan dan diperdengarkan kepadanya di atas langit yang ketujuh. Kemudian Jibril mendatanginya, lalu dia menjadi imam kepada ahli langit. Antara mereka ialah Nabi Adam a.s. dan Nabi Nuh a.s., Allah s.w.t. menyempurnakan kemuliaan baginya ke atas penduduk langit dan bumi”.
Begitulah. Jadi azan memang merupakan wahyu. Bukan mimpi lagi. Soalnya, berdasar pada kutipan tersebut, azan diperkuat dengan penerimaan wahyu. Yah, bagaimana pun juga, azan yang berarti seruan ini harus dijawab dan ditanggapi.
Hukumnya pun semestinya wajib.
Semestinya. Karena antara teks wajib dan perlakuan kita terhadap azan tidak sama. Buktinya seperti di atas tadi. Masak, menjawab seruan azan – artinya bersegera sholat ya, bukan menjawab ulang lafadznya – harus tergantung naik turunnya iman. Toh, kalau kita sudah masuk Islam bukankah kita sudah harus beriman dan konsekuen dengan perintah dan larangan. Jadi, harusnya, saya – dan anda yang sadar – musti refleksi lagi. Azan itu panggilan untuk sholat. Bukan panggilan untuk mandi. Apalagi ke kasur.
Snouck Hurgronje dan Nasib Sebuah Bangsa #1
Mayoritas orang Islam di Indonesia menganggap haji adalah sesuatu yang elit. Memang tidak semua orang Islam menganggapnya begitu, apalagi ketika zaman globalisasi seperti saat ini. Namun menjadi seseorang yang sudah menunaikan rukun Islam ini, secara tidak langsung (atau bahkan secara langsung) menaikan derajat sosial orang itu. Ada prestise tersendiri ketika sesorang memakai gelar haji di depan namanya.
Dr. Martin van Bruisen, seorang peneliti Islam di Indonesia, punya catatan yang menarik mengenai haji. Read more…
Menyusuri Hubungan Mesra Kerajaan Aceh Darussalam dan Turki Utsmani
Panta Rei Ouden Menei. Semuanya mengalir dan berputar. Demikian pula Sriwijaya. Kerajaan besar Budha yang berpusat di selatan Sumatera ini pada akhir abad ke-14 M mulai memasuki masa suram. Invasi Majapahit (1377) atas Sriwijaya mempercepat kematiannya. Satu persatu daerah-daerah kekuasaan Sriwijaya mulai lepas dan menjadi daerah otonom atau bergabung dengan yang lain. Raja, adipati, atau penguasa setempat yang telah memeluk Islam lalu mendirikan kerajaan Islam kecil-kecil. Beberapa kerajaan Islam di Utara Sumatera bergabung menjadi Kerajaan Aceh Darussalam. Read more…
Mengapa Kopi ?
Mengapa kopi ?
Pertanyaan ini terbesit setelah saya membaca dwilogi terbaru Andrea Hirata, Padang Bulan dan Cinta dalam Secangkir Gelas. Andrea dengan menggebu-gebu mendeskripsikan kopi sebagai bagian dari kehidupan orang-orang Melayu di Bangka Belitong. Sampai-sampai, habis membaca novelnya, kesan yang muncul, orang Melayu tak bisa hidup tanpa kopi. Ah, sehebat itukah kopi. Dan akhirnya, pertanyaan tersebut muncul. Mengapa kopi ? Bukan teh ? Atau susu ? Kenapa kopi ? Read more…
Islam Terlalu Kuat Buat Jepang
Maret 1942. Ketika itu bala tentara Jepang yang dipimpin oleh Kolonel Shoji sudah masuk ke wilayah Jawa Barat lewat Eretan dekat Subang. Mereka terus memobilisasi pasukan untuk bergerak menuju pusat pemerintahan kolonial Belanda di Bandung, karena di sinilah terkonsentrasi semua unsur kekuatan Belanda, setelah diungsikan sejak bulan Februari 1941.
Setelah serangan dadakan bala tentara Jepang, pada 8 Maret 1942, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Kerajaan Belanda, Jenderal Ter Poorten, bersama Gubernur Jenderal Pemerintah kolonial Belanda, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, akhirnya menyerahkan Indonesia tanpa sarat kepada Jepang. Dan masa pendudukan Jepang pun dimulai.
Masuknya Jepang ke Indonesia membuka era baru dalam tingkah laku politisi Indonsia. Jika di zaman Belanda penjara dan pembuangan merupakan hukuman paling kejam, di zaman Jepang penyiksaan dan kematian dijatuhkan bagi mereka yang dicurigai tidak taat. Jika di zaman Belanda dikenal istilah “kooperasi dan non-kooperasi”, di zaman Jepang perbendaharaan istilah politik bertambah dengan “kolaborasi”.
Niponisasi mulai diterapkan di hampir seluruh wilayah pendudukan Jepang di Indonesia. Pihak Jepang sangat faham betul tentang peta kekuatan politik yang sedang berkembang. Ada dua kekuatan yang sedang bertarung dalam menentukan masa depan Indonesia ketika itu, yaitu nasionalis Islam dan nasionalis yang non Islam. Dari pendekatan inilah Niponisasi dilancarkan.
Sebelum kedatangannya ke Indonesia, Jepang sudah mengerti bahwa mayoritas masyarakat Indonesia adalah kaum muslimin, dan keberadaan mereka tersebar disetiap ormas dan parpol Islam. Oleh karena itu, khusus untuk umat Islam, Jepang telah membuat kebijakan politik tersendiri, yang menurut Profesor H.J. Benda disebut Nippon’s Islamic Grass Root Policy – Kebijakan Politik Islamnya Jepang. Arah kebijakannya adalah bagaimana Jepang bisa mengeksploitasi kekuatan umat Islam yang tertumpu pada ulama desa dan para cendekiawan muslim. Menurut anggapan Jepang, keberadaan para pemikir Islam ini bisa menghambat usaha penjajahannya di Indonesia.
Dan rupanya Jepang telah merumuskan politiknya terhadap Islam jauh hari sebelumnya. Sejak pertengahan tahun 1920-an, lembaga studi dan majalah yang membahas masalah Islam telah muncul di Jepang. Sebuah pameran dan kongres Islam bahkan diadakan di Tokyo dan Osaka pada November 1939. Delegasi MIAI dari Indonesia juga turut hadir. Segera seusai kongres, seorang ahli Islam, Prof. Kanaya, berangkat ke Indonesia untuk memperkuat ikatan umat Islam kedua bangsa. Sesudah Jepang menduduki Indonesia, pendekatan terhadap Islam Indonesia terus gencar; menekankan persamaan Shinto dan Islam mengenai konsep hakkoichiu (“persaudaraan sejagad”), silaturahmi dengan para pemuka MIAI, membuka Kantor Urusan Agama (Shumubu), menjamu para pemimpin Islam di Hotel Des Indes yang mewah, dan menampilkan “haji-haji Tokyo” seperti Abdulhamid Ono, Abdulmunim Inada, Muhammad Taufik Suzuki, Yusuf Saze. Bahkan ada tentara Jepang yang ikut bersembahyang di mesjid-mesjid ! Jika organisasi lain tak diizinkan membuat majalah, Soeara MIAI sejak Januari 1943 diizinkan terbit.
Para tokoh Islam kini mempunyai senjata moral; kerja sama model ini bisa terus berlanjut, asalkan agama Islam tidak diganggu. Terjadilah permainan “kucing-kucingan” para tokoh Islam yang mencoba mengambil manfaat dari “kerjasama” itu. Apalagi elit Islam kini memperoleh peran yang lebih besar dibandingkan dengan yang diperoleh pada zaman Belanda. Juga apabila dibandingkan dengan kaum nasionalis sekuler. Inilah yang dimanfaatkan para tokoh-tokoh Islam yang berperan dalam pembentukan tentara lokal. Pada Juli 1943 para kiai dilatih kemiliteran di Jakarta. Selanjutnya, latihan korps perwira Indonesia bulan Oktober 1943 melibatkan jumlah kiai yang cukup besar. Ketika mendirikan angkatan bersenjata Indonesia yang pertama, penguasa Jepang pun memalingkan muka kepada Islam. Bendera Peta bukanlah Merah-Putih, melainkan Bulan-Sabit di atas Matahari-Terbit, melukiskan perang suci Islam Indonesia terhadap imperialis Barat yang Kristen.
Sangat menarik mengikuti bagaimana cara Jepang memandulkan MIAI. Sadar bahwa kekuatan Islam terletak pada kekompakan para ulama, Jepang pun memotong koordinasi ulama-ulama di pusat dengan di daerah, sehingga ulama-ulama di desa kurang memperoleh informasi, dan akibatnya membuat umat dapat terbodohi. Shumubu sering melangkahi MIAI dalam mendekati para ulama. Usaha para pemimpin MIAI untuk mengadakan rapat umum tidak diizinkan. Meskipun MIAI berhasil mengusahakan berdirinya Baitul-Mal, organisasi itu terus dikuras sehingga yang tinggal hanya kantor pusatnya di Jakarta. Akhirnya, September 1943, pemerintah pendudukan Jepang memberikan status hukum kepada Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama beserta cabang-cabangnya di Jawa, dan sebulan kemudian MIAI terpaksa bubar.
Sekilas, strategi Jepang yang licin memang bisa membuat kekuatan Islam secara politis “mandul”. Namun, secara tidak langsung, siasat licik Jepang tadi malah menyatukan unsur-unsur kekuatan Islam dalam Majelis Syuro Muslimin Indonesia – disingkat Masyumi – dengan Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama sebagai tulang punggungnya pada 7 Agustus 1945. Berbeda dengan MIAI, Masyumi mempunyai keanggotaan yang meyakinkan di seluruh Jawa. Paradoks terjadi. Islam malah bertambah kuat dengan strategi “pemandulan” Jepang.
Meski begitu, Jepang tetap berusaha menggalang kaum Muslimin demi tujuannya. Jepang sadar bahwa nasib mereka dalam perang ini ditentukan oleh bantuan dari orang Indonesia. Pendekatan Jepang ini dimanfaatkan pula oleh Masyumi untuk membentuk pasukan Hizbullah pada bulan Januari 1945. Usaha Wahid Hasyim beserta tokoh-tokoh Islam lainnya untuk lepas dari pengaruh Jepang terbukti berhasil. Setelah Jepang mengalami kekalahan dalam perang, mereka yang terlibat dalam kepengurusan Masyumi tetap memainkan peran penting dalam politik nasional Indonesia.
Mari kita lihat kematangan strategi Jepang yang lain, yaitu di bidang pendidikan. Pendidikan pada zaman Jepang disebut Hakku Ichiu, yakni mengajak bangsa Indonesia bekerjasama dalam rangka mencapai kemakmuran bersama Asia Raya. Oleh karena itu bagi setiap pelajar, setiap hari terutama pada pagi hari, harus mengucapkan sumpah setia kepada Kaisar Jepang, lalu dilatih kemiliteran. Jepang mengadakan perubahan di bidang pendidikan, diantaranya menghapuskan dualisme pengajaran. Dengan begitu habislah riwayat penyusunan pengajaran Belanda yang dualistis, membedakan antara pengajaran barat dan pengajaran pribumi.
Dualisme pendidikan zaman Belanda agak bertentangan dengan strategi Niponisasi ala Jepang. Sulit sekali doktrin dimasukan kepada para anak-anak jika ada dualisme seperti ini. Lagipula, dengan hengkangnya Belanda dari Indonesia, pengajaran Barat menjadi hal yang tidak ada nilainya lagi. Jepang menggunakan sistem pendidikan berjenjang. Pertama, Sekolah Rakyat enam tahun. Kedua , sekolah menengah tiga tahun. Ketiga, sekolah menengah tinggi tiga tahun. Akhirnya, sistem pendidikan inilah yang diadopsi oleh Indonesia hingga kini.
Yang lebih menguntungkan, ruang gerak pendidikan Islam lebih bebas, mengingat grass root policy-nya Jepang terhadap Islam. Pesantren-pesantren besar sering mendapat kunjungan dan bantuan dari pembesar-pembesar Jepang. Sekolah negeri diberi pelajaran budi pekerti yang isinya identik dengan ajaran agama. Pemerintah Jepang juga mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang dipimpin oleh KH. Wahid Hasyim, Kahar Muzakir, dan Bung Hatta.
Di akhir-akhir Perang Dunia II kedudukan Jepang terjepit. Jepang mulai menekan dan menjalankan kekerasan terhadap bangsa Indonesia. Jepang lalu memberlakukan romusha (kerja paksa) dan membentuk badan-badan pertahanan rakyat semesta. Kehidupan rakyat semakin tertindas dan menderita. Tak heran lahir berbagai pemberontakan, seperti peristiwa Cot Plieng, peristiwa Singaparna, pemberontakan Teuku Hamid, peristiwa Indramayu atau pemberontakan PETA yang termasyhur.
Meski kejam, toh, ada juga sisi baik yang tidak kita sadari dan sangat berpengaruh. Bahasa Indonesia menjadi hidup dan berkembang secara luas di seluruh Indonesia, baik sebagai bahasa pergaulan, bahasa pengantar maupun sebagai bahasa ilmiah. Buku-buku dalam bahasa asing yang diperlukan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pendidikan Islam di zaman Jepang dapat bergerak lebih bebas bila dibandingkan dari zaman Belanda. Pada masa penjajahan Jepang, atas usaha Mahmud Yunus di Sumatera Barat, pendidikan Agama Islam bisa dimasukan ke dalam kurikulum sekolah-sekolah pemerintah.
Kebijakan politik Jepang yang tampak baik pada Islam terus berlanjut. Meminjam istilah Profersor H.J Benda, “matahari terbit” terus berusaha menarik “bulan sabit” pada orbitnya. Bahkan menjelang akhir-akhir kejatuhannya, Jepang masih gencar mengambil hati umat Islam untuk kemudian dimanfaatkan oleh mereka. Seperti kebijakan pada tanggal 1 Mei 1945, di mana Gunseikan memutuskan hari Jumat libur setengah hari bagi kantor pemerintah. Pada 11 Juni, Al-Qur’an dicetak pertama kalinya di bumi Indonesia. Dan pada 8 Juli, Universitas Islam Indonesia didirikan dengan Abdul Kahar Muzakkir sebagai ketua. Setelah proklamasi kemerdekaan, universitas ini dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta.
W. F. Wertheim, seorang guru besar Universitas Amsterdam, menuliskan, kekuatan-kekuatan yang mencoba menggunakan Islam untuk mencapai tujuan politiknya, pada gilirannya akan dimanfaatkan oleh politisi Islam untuk mencapai tujuan yang sangat berbeda dengan tujuan kekuatan tersebut. Bulan Sabit memang terlalu besar untuk menjadi satelit siapa pun!


